RSS Feed
Tidak semua yang ku tulis adalah aku, dan tak semua yang kau baca adalah kamu.
Tampilkan postingan dengan label absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label absurd. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2014

Kind of "Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta"

aku tak perlu repot menulis surat cinta padamu, karena semua telah seterang bintang kejora ataupun seperti langit pada bulan purnama. Tak ada cinta di antara kita. Sesugguhnya kita hanya saling menukar sepi dan mengisinya dengan hari-hari yang presisi. Kau dan aku adalah dua manusia yang sedang tidak bahagia. Dua orang yang sedang menjaminkan luka untuk digadai dengan kebahagiaan.
Karena pada mulanya semua adalah luka. Rentetan kisah sedih yang coba disulap menjadi sepotong cinta, namun gagal bahkan setelah berkali-kali mencoba. Bersama mencoba merajut harapan-harapan fiksi dalam kabut realitas yang semu dan tak bisa tertebak lagi.

Atau mungkin tidak. Ini mungkin memang sebuah surat cinta yang ditulis malu-malu dan dirangkai ragu-ragu. Tapi tunggu dulu, aku tak mungkin jatuh dalam dekapan cintamu. Karena sejak dahulu telah berulang-ulang kali diriku kupasangi perisai titanium, sehingga cintamu akan bertekuk lutut bahkan sebelum sempat mengecup.

tapi toh aku memang pemalu, dan kau mungkin seorang peragu. jadi percayakah kau pada waktu? aku sendiri sudah sedari dulu membunuh jenuh dan memilih tidur membisu. Ini mungkin benar-benar surat cinta yang kaku. Yang tidak berbicara soal sayang-sayang melulu.

terima saja, jemariku telah muak menuliskan rindu-rindu pada punggung kokohmu. dia telah berdarah-darah merah dan lelah menggerogoti nadinya sendiri. jangan kau pikir aku cinta, karena kamu tak lebih dari sebongkah permata. kalah jauh dari gemerlapnya berlian.

aku pencemburu ulung yang lebih suka menyepi dalam hening tengah malam. kau lelaki tak tahu malu amatiran yang sesumbar tentang kesetiaan. aku tukang pamer kesenyapan yang pelit perkara senja-senja yang kesepian.

mengingatmu, hanya membersitkan suasana hati yang sebeku badai salju. memikirkanmu terlalu lama mengembalikan ingatan kembali ke titik nol. kau tak lagi bernilai seperti aku yang memang tidak menilai. aku seolah-olah berada di sebuah lorong sempit yang di ujungnya tak ada kamu berdiri. menihilkan semua etikat-etikat baik yang kadang memikirkannya pun aku jijik setengah mati.

kau tak mengerti? sama. aku juga tak menuliskan arti. sejatinya, kata-kata adalah puisi yang telah mati suri. prosa-prosa yang kutulis telah memunafikkan diri sedari tadi. ini hanyalah benar-benar sebuah surat cinta yang diselubungi gengsi tinggi. tak usah kau balas dan segeralah amnesia.

Kamis, 20 Maret 2014

Penunggu Mading Fakultas

Sore ini aku sedang dibungkus hangat. Mungkin bagi mereka yang tak percaya pada kekuatan cinta akan menudingku berlebihan. Aku sedang menggenggam hatiku demikian eratnya kali ini. Takut debar debar kebahagiaan yang tak bisa aku tahan lajunya, membuat hatiku melompat keluar dan tak bisa kembali ke asal. Tahukah kamu? dari balik mading fakultas, aku mengagumi setiap tingkah lugumu. Kau adalah salah satu alasanku bersemangat melajukan motorku ke kampus setiap paginya.

Sore ini, lagi-lagi, aku menikmati sosokmu dari balik mading fakultas. Senyumku tak berhenti melengkuh sementara bibirku kebas dalam rasa yang tak mau terkikis habis. Sebulan yang lalu, aku telah resmi menjadi 'Penunggu Mading Fakultas'. Tak ada rasa bosan yang hadir ketika aku sedang menontonmu melenggang di sepanjang koridor bersama teman-temanmu dari kejauhan. Seperti teduhnya menikmati rintik hujan yang jatuh ke tanah satu per satu sembari menyesap secangkir kopi. 

Aku tak pernah segila ini sebelumnya. Hanyut dalam denting piano yang memainkan nada penantian. Menikmati setiap detik yang dicipta waktu dengan memujamu dari kejauhan. Kau tak akan percaya, siluetmu ketika tertawa memecah debar dengan seketika. Jika cinta yang membuat aku manjadi gila, katakan pada dunia, aku tak ingin disembuhkan.

Jika poster-poster di belakangku bisa bicara, mungkin mereka telah lama mengeluh kebosanan. Menonton punggungku yang begitu-begitu saja di setiap penghujung senja. Tak ada dialog yang terdengar, semua serba kesunyian atau sesekali ditemani lantunan gerimis. Kuharap mereka bisa bersabar lebih lama. Mungkin besok, lusa atau entah kapan, telah ada kau berdiri disini menemaniku. Saat ini, aku hanya sedang menyusun bongkahan nyaliku pelan-pelan.


Rerintik hujan menghiasi soreku kali ini. Dinginnya membalut rasa yang sebentar lagi membeku setelah sekian lama ditinggal oleh pemilik. Telah datang hari-hari, dimana cinta tak lagi sehangat dini. Hangatnya memuai bersama kedatangan sepi di hari-hari sendiri. Saatnya menunggu ksatria baik hati datang menghampiri. Membawakanku keranjang besar penuh dengan mimpi-mimpi manis. Dibawah mading fakultas aku berteduh dari hujan yang mengalunkan irama mistis tempat aku menghiburkan diri.

Senja kali ini terlalu cepat menggelapkan diri. Terburu-buru mengundang rembulan untuk menduduki tahta langit bersama bebintang. Padahal aku masih menunggumu disini. Bersama deretan huruf warna-warni yang tak pernah pergi walaupun ingin. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi. Biarkan aku berteduh dibawag mading fakultas ini sebentar lagi. Mungkin di menit ke enam belas akan datang pangeran berkuda putih.

Kekasih, lukaku kini telah sembuh dimakan masa. Tak ada lagi dia yang menari-nari di lantai bernama hati dengan menggunakan sepatu dansa penuh duri. Kini saatmu untuk bertamu telah tiba. Datanglah, dan bawakan aku punggung yang akan menjadi tempatku bersandar saat ragu menggiringku berjalan jauh dari kebenaran. Segeralah menyegerakan diri, karena aku tak mau menunggu terlalu lama seperti cerita kemarin.

Tak bisakah rotasi Bumi diperlambat? agar kertas-kertas dibelakangku tak lusuh dimakan jaman. Hingga mereka akan tetap setia menemaniku menunggu. Aku memandang lekat-lekat pintu kaca disebelah sana. Terlalu lekat, sampai berkedip pun aku enggan. Aku memandangi dari jarak yang terlalu jauh dijamah oleh mataku. Sebelum senja benar-benar habis dikikis bulan, masuklah melangkah dari pintu kaca. agar senyumku segera merekah.

Diam-diam, ada cerita yang terajut mesra dari keberadaan mading fakultas. Saat senja masih menjadi tontonan orang-orang dan bulan belum lagi merajuk di beranda jendela meminta perhatian, ada kisah terpilin rahasia dari kumpulan rasa yang berterbaran di sepanjang koridor fakultas. Diam-diam saling memperhatikan. Diam-diam saling menunggu jawaban. Diam-diam saling memberi harapan.

Bertumpuk-tumpuk rindu telah tertancap halus pada permukaan mading fakultas. Ditancapkan rapi oleh para penunggunya yang telah lama saling bertukar kata yang belum tuntas. Permukaan mading fakultas, saksi bisu dari segala sunyi yang dicipta rasa malu-malu untuk saling mengenggam.

Betapa hidup telah menjelma mencadi ibu tiri yang kejam. Memisahkan cinderella dari pangerannya, bahkan sebelum lonceng jam dua belas malam berbunyi lantang. Betapa takdir telah tega mempermainkan kehidupan, menciptakan pandangan yang belum juga saling bertaut hingga sekarang. Betapa semesta telah berubah menjadi labirin yang jahat. menyesatkan dua hati yang telah lama saling mendatangi satu sama lain.

Tuhan, beginikah potret manusia yang saling mendoakan dalam diam? Semoga nasib baik menghampiri mereka berdua.



*catatan penulis: prosa bersama foto di atas tidak lebih dari rekayasa belaka.

Jumat, 07 Maret 2014

Yang Tidak Terucapkan

sebut saja aku hebat. setengah tahun ku pendam rasa ini, sampai sekarang tak juga berani ku bahasakan langsung di depannya. ada rasa gugup setiap kali bersamanya, melihat wajahnya. ada yang tak terucapkan di antara aku dengannya. ada.

berkali-kali selama enam bulan belakangan, telah kucoba merepresi segala perasaan ini. mencoba melupakannya. menganggap semuanya baik-baik saja. mendorongnya jauh ke alam bawah sadar. tetap berinteraksi seperti biasa saja dengannya. seolah-olah biasa saja. seolah-olah tak ada yang terjadi diantara kita. iya semuanya hanya seolah-olah.

aku seakan-akan sedang berdramaturgi. didepannya ku usahakan selalu tersenyum dan memberikan tanda seolah-olah (lagi) aku baik-baik saja. didepannya aku tetap menari dibawah hujan seperti biasanya, aku tetap duduk membaca buku seperti biasanya, aku tetap diam mengamati seperti biasanya. tapi didalam hati? aku bertanya-tanya. kenapa semuanya menjadi seperti saat ini? kenapa semuanya berubah?

seorang kawan pernah berkata. "tersenyumlah, karena senyum akan membawamu pada kondisi yag lebih baik. meskipun itu hanyalah senyum palsu." jadi setiap kali rasa itu hadir menggerogoti kesadaranku, akan ku pasang senyum terbaikku sebagai tameng. berharap perlahan semua akan baik-baik saja. tak pernah kurasa sebelumnya, tersenyum bisa jadi sesulit itu. seakan bibirku kaku, ditarik sedikit saja perih rasanya.

wajahnya, ekspresinya, mimiknya juga tingkah lakunya. semua ku tafsirkan negatif. seakan-akan mereka berbicara kepadaku, bahkan cenderung berteriak lantang. menyuruhku pergi dari kehidupannya. bahwa aku tak dibutuhkannya lagi. bahwa aku adalah parasit yang hanya akan menghambat segala aktifitasnya. bahwa aku hanyalah anak kecil yang tak perlu tahu apa-apa. bahwa akan lebih baik baginya jika keberadaanku tak ada lagi disekitarnya. benarkah seperti itu?

pernah sekali, aku tak tahan lagi memendam semuanya, ku putuskan untuk membuat janji untuk bertemu dan membicarakan semuanya. kami bertemu. semalaman aku telah menyiapkan kata-kata apa saja yang akan kugunakan untuk mengungkapkan semua perasaan ini. hatiku telah mantap. akan kuterima segala resiko yang akan terjadi. tapi, detik pertama kulihat wajahnya, detik itu pula gembok bibirku tertutup rapat. aku tak lagi bisa bersuara.

sebenarnya apa yang salah dari hubungan ini? adakah aku secara tak sengaja menyakitinya?

Rabu, 15 Januari 2014

Membujuk Seorang Ayu

You: MAAF! sengaja aku tulis dengan huruf besar, agar matamu yang rabun tak lagi kau jadikan alasan hingga tak bisa membaca rasa bersalahku yang teramat besar.

Me: Sudahlah, kamu menghilang saja terus, tak usah ingat aku. yang bodoh memang aku. masih setia menunggu kedatangan kabarmu setelah empat hari tiga malam yang bisu.

You: Ayu, dengarkan aku dulu!

Me: Apa lagi alasanmu? kepalamu kejedot banyangan wanita lain, sampai kau amnesia. lupa kalau ada aku yang menunggu kabarmu?

You: Ayu, jangan kekanak-kanakkan seperti ini, kamu tau aku sedang sibuk.  

Me: iya aku memang masih anak-anak, hingga kesabaranku menunggu tak lagi bernilai dimatamu. anak-anak cukup diberikan harapan, bukan begitu?

You: kali ini kau sudah berlebihan Ayu, aku hanya tak menghubungimu. bukan tidak mengingatmu sama sekali. aku bisa jelaskan.

Me: dongeng apalagi yang ingin kau umbar? mitos apalagi yang harus kudengar? atau kau berpikir dengan tidak memberi kabar, kau akan menjadi legenda. sudahlah, kamu sibuk kan? aku juga!

You: Terserah kamu saja! kuharap kau tak akan pernah menyesal dengan keputusanmu itu.

Me: entahlah, tapi telingaku seperti menangkap ancaman. tak usah bawa-bawa pilihan, hanya karena kau menganggapku pilihan kesekian.

You: berpikirlah sejenak dengan baik, sebelum kau melontarkan kata yang bisa saja melukaiku.

Me: kata-kataku mungkin saja akan melukaimu, tapi ketiadaan kabarmu sudah menggoreskan luka dengan sangat jelas di sudut hatiku.

You: kamu salah Ayu, kau kira aku juga tidak terluka?

Me: salah katamu? salah apa? salah satu wanita yang perasaannya tidak kau tanggapi?

You: jadi perasaanmu yang membuncah itu telah mengalahkan logikamu sehingga aku dan permintaan maafku tak lagi kau indahkan?

Me: lebih dari itu. kau lupa menambahkan variabel rindu dan khawatir di dalamnya.

You: hmm.. kali ini aku memang salah. maafkan aku yah?

Me: aku tetap bisa merindukanmu tanpa harus memaafkanmu.

You: Aku benar-benar minta maaf. selain aku kau rindukan dan kau sayangi, aku juga tahu aku ini
egois.

Me: hmm..

You: berhentilah ngambek seperti itu. aku benar-benar tak tahu harus bagaimana kalau kau sudah bertingkah seperti itu. jujur aku rindu. kamu dimana? aku jemput yah. 

Me: memejamlah. aku ada tepat dihatimu. coba cari dibagian 'tak diurus'. mungkin kau meninggalkanku disana.

You: ayolahhh, kita baikan yah. biarkan pelangi mungil muncul di senyum terhangatmu. agar kau bisa merasa, sehangat itu pula aku rindu padamu. 

Me: begitulah kamu. pintar sekali merayu. cepatlah kesini. aku menunggumu. sebelum pelangi ini ditutup kembali dengan awan mendung.

Minggu, 12 Januari 2014

Ingin Dirindukan

aku membiasakan diri berada di sekelilingmu. agar kau terbiasa dengan kehadiran sosokku. walau sekedar bertanya 'apa kabar?' atau malah mencari-cari topik untuk kita diskusikan. perlahan-lahan ku letakkan satu persatu memori tentangku, berharap suatu saat nanti ingatanmu akan menjadi rumahku.

aku berusaha menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesahmu, menyediakan bahu sebagai tempatmu bersandar kala lelah datang, menyediakan tangan untuk menghapus air mata yang sempat jatuh serta mengangkatmu bangkit dari keterpurukan. aku berusaha menyediakan semuanya. gratis tanpa beban sewa ini itu. selamanya pun tak mengapa.

aku juga selalu khawatir jika melihatmu diam, atau mendengar sesuatu yang tidak-tidak tentangmu. firasatku berkata untuk tidak pernah meninggalkanmu sendirian. berusaha ada disaat kau butuhkan. berusaha hadir disaat kau memanggil. sekedar memastikan kamu baik-baik saja.

tapi jika suatu hari aku menghilang. tak berkabar. tak pula muncul dihadapanmu. aku tidak benar-benar menghilang. aku pun tidak benar-benar berkabar. aku juga tidak berhenti memperhatikanmu. aku bukan pula ingin menjauh.

jika kamu ingin tahu, jawabannya sederhana.

aku hanya ingin kau rindukan. hanya ingin dicari olehmu.

-curahan hati seorang kenalan-.

Sabtu, 04 Januari 2014

Secara tiba-tiba

semua terjadi secara tiba-tiba.
tiba-tiba saja hati telah menjatuhkan vonisnya padaku. 
aku didiagnosa sedang jatuh cinta.
tiba-tiba saja, banyak hal yang tak dapat kujelaskan di dunia ini. 
seperti mengapa senyumku bisa tiba-tiba merekah, sesaat setelah sosokmu terlihat berjalan dari kejauhan.
tentang rinduku yang tak bertepi, tak berujung, tak mengenal ruang dan waktu.
tentang mataku yang tak bisa berhenti melirikmu dari kejauhan juga tak bisa ku jelaskan sebab musababnya.

Senin, 30 Desember 2013

Pesta telah usai!

Apa yang kamu ketahui tentang kehilangan?
tentang kekalahan?
tentang ditinggalkan?
tentang penantian?
tentang perpisahan?

Sabtu, 28 Desember 2013

Bagian 3: "Dialog Nalar dan Rasa"

Hati, kamu dimana? aku tak bisa menghubungimu. kita perlu bicara. penting.

maaf, sekarang aku sedang sibuk berbenah diri untuk dia. sepertinya dia sebentar lagi akan datang. kita bicara lain kali saja.

yang ingin ku bicarakan juga tentang dia, aku tak setuju dengannya. ada perasaan yang tak enak mengenai dia.

'perasaan' katamu? sekarang kamu juga pakai perasaan? kemana logikamu?

terserah kamulah. yang jelas kita harus bicara. kalau tidak aku akan menghilang.

aku sibuk! tinggalkan aku sendirian!

.....................................Hening...................................

Nalar, kamu kemana? tempat ini kosong. kamu benar. dia tak akan pernah datang.

Senin, 23 Desember 2013

Hujan.

/1/ Hujan kali ini mati.
Hujan kali ini punya cerita. Tentang canda yang terurai jarak. mengalun mesra dalam rintik-rintik kenangan. menghantarkan rindu yang belum sempat bertukar pesan.

Hujan ini merekam tapak. Tentang jejak langkah yang menuntun pada rasa. menjelma dalam tautan jemari yang menjadikannya hangat. hingga dingin menguap bersama sepi ke ujung-ujung awan.

Jumat, 13 Desember 2013

Pelukan

akhirnya malam tiba juga, memaksaku lelah dan pulang ke peraduan. tapi lelah tidak cukup kuat hingga dapat memaksa kantuk menyergap. lelah belum cukup berkuasa menyuruh tubuhku bermimpi. malam ini, boleh kuminta sebuah pelukan?

Selasa, 03 Desember 2013

Malam ini

andai jemariku bisa menari lincah dalam lelap.
telah sejak dulu kutuliskan semua yang berasal dari mimpi.
andai suaraku bisa merayap perlahan dalam kebisuan.
telah sejak dulu kuucapkan semua yang berasal dari benak.
Mentari, bersembunyilah. Reduplah sementara.
sinarmu sebentar lagi membakar habis keping-keping rasa yang baru saja kucoba rajut kembali.
dan Angin, diamlah. Damailah untuk sekejab.
hembusanmu sebentar lagi menyapulenyapkan pohon-pohon hasrat yang semenit lalu coba kutumbuhkan.
kini malam mulai menerkam.
dan kesunyian semakin terlihat mencekam.
detik ini, izinkan mulutku membungkam.
detik selanjutnya, biarkan mataku yang memejam.
Gerimis kecil, deraslah. hujani malam ini.
biarkan rintik-rintik yang turun, mengetuk-mengetuk pintu hatinya.
mengantarkan surat yang sarat makna.
bersabarlah. kau tak sendirian menanggung rindu.
hatikupun begitu.
mari berdoa. semoga.
di hari lain, nadi ini masih punya nyali.

Jumat, 29 November 2013

:') #3

inilah saat saat dimana aku benar-benar ingin melompati waktu.
hujan menggelisahkan dalam balutan kegaguanku.
menggelamkan rindu. membasuh bisu.
senyumku masih tak cukup lebar untukmu berteduh.
kali ini kau harus ikhlas dibasahi rindu.
jika kedinginan, bilang padaku.
akan kuhangatkan dirimu lewat pelukan senyumku.

:') #2

gemuruh petir di langit luar.
tak mampu menahan teriakan-teriakan rindu didinding hati.
mataku ingin bertemu dengan matamu.
pun suaraku ingin bercengkrama diruang-ruang pendengaranmu.

:') #1

pikiranku kini melayang pada labirin waktu.
doakan saja, aku tak tersesat.
atau mungkin yang lebih parah, hanyut dalam arus air mata.

Minggu, 03 November 2013

Lima ke-Putus Asa-an

/1/
tak usah bicara tentang akal.
tak usah elu-elukan keadilan.
aturanmu tak pernah berlaku padaku.
sejak awal alam telah menggariskan.
lewat kepasrahan awan merintikkan hujan.
tak ada jalan bagi langit untuk rata dengan tanah.
tak ada.
tak akan ada.

/2/
tak usah datang.
tak usah kembali.
hanya untuk mengambil suratan kenangan.
aku telah memutuskan urat nadi kanan.
yang kiri?
ku biarkan utuh.
agar kau tetap mengenang.
tentang aku yang telah hilang harapan.

/3/
akulah sang perempuan sore.
berbaring sekarat diantara rona senja.
bersiap mati kala malam menghampiri.
ditikam dingin yang menelusuk hingga ke hati.
akulah perempuan sore.
habis menguap.
selaras dengan kedatangan bulan.
yang tega memborgolkan rindu.
disetiap inci demi inci jasadku.

/4/
susah.
sangat susah.
jadi ku sebut apa dirimu.
nama apa yang berhak kau sandang
segitiga bersisi empat? bukan.
satu yang genap? bukan.
iya yang tidak? bukan.
tawa yang membisu? bukan.
sudahlah~
toh sebentar lagi otak ini akan meledak.
biarkan hatiku yang memimpin.
kali ini saja.

/5/
ku gantungkan hidupku pada kata-kata.
yang talinya terbuat dari rentetan kalimat.
hingga tak sadar aku telah mati tercekik puisi.
ku ikatkan kebebasanku pada janji-janji.
yang rekat, hingga aku terbuai mimpi.
hingga tak sadar aku terjebak.
selamat~
hidupku berhasil kau sandera.

Rabu, 30 Oktober 2013

31 :)

31 moment.
bahwa lupaku semakin sering menyusahkanku.
bahwa rabunku membuatku sering salah menyapa.
bahwa jemariku lebih senang mencipta puisi.
bahwa imajinasiku yang liar telah menghapus batas-batas kenyataan.
bahwa pikiranku adalah kantor tersibuk yang pernah ada.
bahwa ada bekas cacar di dahiku.
bahwa ada bekas luka di tanganku.
bahwa aku suka hujan tapi membenci petir, kilat dan gunturnya.
bahwa aku suka kesunyian, menikmati kesendirian tapi bukan dalam kegelapan.
bahwa aku malas jadi dewasa, dan terjebak masalah.

31 pertanyaan.
tentang hikmah masa lalu.
tentang arti masa kini.
tentang misteri masa depan.
tentang pikiranku.
tentang jiwaku.
tentang rasaku.
tentang batinku.
tentang mahluk.
tentang alam.
tentang tuhan.
tentang kenalan.
tentang teman.
tentang sahabat.
tentang keluarga.
tentang dia.
tentang aku.

31 bulan.
31 minggu.
31 hari.
31 jam.
31 menit.
31 detik.
dan aku -semestinya harus- berhasil berubah total. 
dan aku -semestinya harus- menjadi sosok yang tak lagi manja.
dan aku -semestinya harus- bertumbuh dewasa.

selamat. hidupku sukses melangkah. :)

Rabu, 16 Oktober 2013

Percakapan di Telepon.

kita terjebak perbedaan waktu. saat matahari menemani hariku, kau sedang bersenandung dengan bulan dan bintang. tapi kita masih berdiri di atas Bumi yang sama, yang anginnya berbaik hati untuk selalu ku titipi rinduku padamu.

pagi ini telah kusediakan untukmu. untuk sekedar bertukar sapa atau hanya sekedar mendengar suara. sesederhana itu.

Kamu : Selamat pagi. karenamu embun didaun jendelaku sedang mencair. suaramu begitu hangat di pagi hari.

Aku : Pagi. aku berharap semoga hujan yang mengguyur kotamu bukanlah wanita, karena aku bisa cemburu, dia lebih tau kabarmu daripada aku.

Kamu : Kau menggodaku lewat bahasa. padahal kau tau aku tak suka berkata-kata, karena dalam diam pun kita sudah saling mengerti rasa.

Aku : Aku pun tak mengerti tentang bahasa. cuma satu kata yang selalu muncul di benakku saat memikirkanmu. biarlah ku simpan sendiri kata itu. apa itu cukup untuk bisa mengambil tempat berjalan disisimu ?

Kamu : itu sudah lebih dari cukup. jangankan bahasa, aku juga tak tau astronomi. yang ku tau bintang timur dan bintang barat telah berkonspirasi dengan semesta mengirimkan setiap rinduku walau kita terpisah waktu.

Aku : begitukah? *aku tersipu malu* tapi aku hanya tau meracik bumbu. bumbu berbentuk puisi yang pasti kau suka, karena resepnya kucuri langsung dari surga.

Kamu : ahh~ kamu memang cahaya keduaku setelah sang surya. apalah diriku ini yang hanya tau tentang ilmu navigator. itupun yang kupahami betul hanyalah peta menuju hatimu.

Aku : Tapi kali ini aku ingin menyalahkan semesta. ruang otakku yang sesempit ini, diisinya dengan semua hal yang tentang kamu. Padahal aku telah menyediakan hatiku untuk kau isi sepenuhnya.

Kamu : janganlah menyalahkan semesta. semesta bahkan berbaik hati menggulirkan bulir bulir rasa melalui rekahan senyummu.

Aku : kamu benar. Kalau diingat-ingat semesta bahkan mengatur setiap detak jantungku agar berdetak lebih cepat setiap melihat sosokmu.

Kamu : KeMahaan semesta memang begitu baik. dia bahkan merendahkan hati sang surya yang iri melihat kehangatan senyum dan tutur katamu yang dapat melelehkan kebekuan rinduku.

Aku : Namun ingatlah, selama kita menjelajahi jarak. mungkin aku akan sering tersandung kerikil-kerikil kecil yang tak terlihat. tapi tenang saja, aku akan selalu jatuh pada dasar hatimu.

Kamu : tentu akan ku ingat. Aku ingin tidur, bukan lelah. aku hanya ingin mendatangimu, melihat senyummu merekah dalam mimpiku.

Aku : Terima kasih telah menjadi benteng hatiku. terlelaplah dan kembalilah dalam diammu :)

kututup telepon singkat tadi. kini aku hidup lagi :)

Selasa, 15 Oktober 2013

untitled



Engkaulah pelita tempat berkumpulnya cahaya harapan.
Engkaulah penujuk jalan yang diselubungi kabut-kabut kepercayaan.
Engkaulah semesta berisi partikel-pertikel cinta kami.
Engkau, dimana segala harapan digantungkan
Padamu, yang segala percaya ditautkan
Untukmu, yang segala cinta diberikan
Wahai, pemerintah :’)
 (catatan kecil yang ditulis disela-sela bingkai kekecewaan-masyarakat)

Aku ingin bercerita. Tentang sebuah kisah yang cocok menyandang predikat ‘miris’ terlebih ‘ironis’. Cerita ini berkisah tentang harapan yang dibumbung tinggi tapi kemudian dijatuhkan. Berkisah tentang rasa percaya yang dijaga sepenuh hati tapi kemudian dihamburkan penuh kesia-siaan. Tentang rasa cinta yang terlalu dalam tertanam tapi justru kabur terseret arus gelombang keserakahan. Kisah ini tentang  yang sering kalian sebut sebagai Masyarakat dengan yang kalian elu-elukan sebagai Pemerintah.

Bagai kain polos tanpa motif Masyarakat punya sejuta harapan, berlapis-lapis kepercayaan, hingga cinta yang terang benderang. Masyarakat berharap memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bersandar dikala susah, sosok yang bisa diandalkan ketika yang lainnya sibuk dengan diri mereka sendiri. kemudian hadirlah dia disaat-saat yang tepat. Pemerintah hadir dengan sejuta kata-kata manis. Kata-kata manisnya melantun menemani Masyarakat mengawali dan mengakhiri harinya. Pemerintah selalu datang, membuat Masyarakat melayang dengan wibawa dan janji-janji.

Minggu, 13 Oktober 2013

Pejuang

Bahwa dunia itu abu-abu
kamu tau, Pejuang.
telah hilang batas antara hitam dan putih.
tapi aku lupa mengingatkan.
hanya dibutuhkan kata tanya yang tepat untuk menguaknya.

Bahwa kekhawatiran selalu membelenggu.
kamu selalu tau, Pejuang.
tapi aku luput menceritakan.
kisah tentang seorang tua.
dibayar mahal karena keberaniannya.
melepas segala bentuk ketakutan.

Bahwa hidup membawa dadu.
bermain judi dengan harapan jadi taruhannya.
kamu yang paling tau, Pejuang.
tapi aku salah, tidak mengenalkanmu pada sahabat lama.
namanya konspirasi. dimana kaki tangan tak lagi bersahabat.

Dan bahwa aku bersembunyi.
cuma aku yang tau, Pejuang
yang sampai di telingamu, hanyalah yang ingin kuperdengarkan padamu.
selebihnya, masih ku simpan dalam kotak pandora.
rapat-rapat.
rapi-rapi.

Jadi..
jangan pernah menjadi cenayang.
tetaplah pada koridormu.
jadilah pejuang.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Rewriting Story : "The Little Mermaid"

tersebutlah seekor raja duyung sekaligus dewa laut, bernama Neptunus. mempunyai 3 anak yang dengan kelebihan masing-masing. Anak pertama, duyung dengan sirip ungu, bernama Putri, akrab dipanggil puthe dikalangan para geng hiu. kelebihannya? cerdas. nilainya rata-rata A untuk semua mata pelajaran yang ada di akademi mermaid. mulai dari mata pelajaran "pengantar kesamuderaan" hingga "teori kehidupan bawah laut" dikuasainya. tak ada yang bisa mengalahkan nilainya pada pelajaran "teknik penguasaan sirip". soal akademik, semua takluk padanya.

anak keduanya yang bernama Nunu, mempunyai sirip berwarna merah. nunu menguasai berbagai macam bahasa. mulai dari bahasa kuda laut hingga bahasa kura-kura semua dikuasainya. tak heran dia mempunyai lingkup pergaulan yang luas. dipagi hari dia biasa bergaul dengan para ikan buntal, membicarakan ganggang laut yang semakin langka juga gosip asmara para artis Aqualywood. di siang hari, dia bisa dilihat berkumpul dengan para belut listrik. membahas tentang peta perpolitikan menteri menteri laut. dan di malam hari, waktunya dia bercengkrama dengan sang kura-kura, merenung tentang arti hidup dibawah air.

si bungsu, dengan sirip berwarna biru, bernama Ayu. si bungsu ini suka sekali menulis dan melukis. dia suka melukis siluet bulan di setiap karang yang ditemuinya. atau menulis keseharian para duyung diistana. jadi jangan heran jika karang-karang yang ada disekitar istana telah penuh dengan lukisan si bungsu, atau jika kalian masuk ke perpustakaan istana, akan ada banyak sekali puisi ataupun cerita karyanya.