RSS Feed
Tidak semua yang ku tulis adalah aku, dan tak semua yang kau baca adalah kamu.
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

7 Ratu Di Negeri Cinta

Dua tahun. bukan waktu yang singkat. tapi tidak juga terlalu lama.
dalam dua tahun, ternyata orang bisa berubah banyak, tapi bisa juga tetap sama.
Apalagi jika Cinta dijadikan alasan.

Saya takjub. betapa banyak hal yang bisa merubah pribadi kawan-kawanku selama dua tahun. hanya dua tahun. jika dalam 2 tahun saja perubahan yang ada sudah seperti ini, apa jadinya nanti jika kita bertemu pada tanggal 20-02-2020? janji kelingking yang iseng kita buat dulu. semoga masih terpatri diingatan kita masing-masing.

Minggu, 10 November 2013

Hidup.

kalian tahu tidak? hidup kini mulai bertindak semena-mena.
kok bisa? entahlah. aku pun juga tak tahu.
mungkin Tuhan telah memberi hadiah berupa kuasa pada hidup.
hingga dengan berani dan leluasanya hidup memperolok sebuah pertemuan.

Rabu, 04 September 2013

Konsep Anak Berbakti

suatu malam aku bertanya pada Ayah, "Bagaimana konsep anak berbakti menurut Ayah?"

pertanyaan ini hadir karena rasa-rasanya aku belum pernah mencapai konsep anak ideal pada umumnya, mendekati pun rasanya juga tidak. sementara bukankah menurut ajaran agama manapun, setiap anak harus berbakti pada orang tuanya. Benar begitukan?

aku melihat disekelilingku, teman-teman sebayaku. beberapa orang di antara mereka memiliki nilai IPK yang tinggi, kuliah rapi 4 tahun atau bahkan kurang dari itu. beberapa yang lainnya telah mendapat pekerjaan, tentor di bimbingan belajar ini dan itu atau sebagai wirausaha mandiri, jualan ini dan itu. sisanya mendapat beasiswa yang diidam-idamkan. adalah suatu kewajaran jika mereka berbangga hati.

mungkin begini konsep pendidikan di Indonesia saat ini. Achievement Oriented. semua serba penghargaan. wajar saja kalau orang saling berlomba menunjukkan eksistensi diri pada realitas. seakan-akan seseorang yang "biasa-biasa" saja tidak akan dianggap. Mungkin inilah hasil pengejewantahan konsep pendidikan liberal. atau mungkin juga seperti inilah pengejewantahan dari teori kebutuhannya kanda Maslow. Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. tingkatan tertinggi adalah aktualisasi diri. pada tingkatan ini, manusia berusaha untuk menunjukkan keeksistensian dirinya di dunia. dan entahlah konsep-konsep apalagi yang hadir untuk membenarkan diriku yang jauh dari konsep "anak berbakti" pada umumnya.

saat kutanya seperti itu, Ayah menjawab sambil tersenyum "cukup membuka hati pada tuhan saja".

Sabtu, 15 Juni 2013

wanita impian

kali ini ingin membahas sedikit tentang wanita impian.
saya hanya ingin sedikit berpendapat secara bebas, beropini semerdeka mungkin.

sejak emansipasi wanita dielu-elukan, semakin banyak wanita ingin disamaratakan haknya dengan pria. termasuk dalam lingkungan keprofesian. seakan tak ada lagi pembeda, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pria juga telah dijamah oleh tangan-tangan perkasa wanita. semisal, tukang ojek, sopir bus, karyawan kantoran, mandor, manajer, direktur, hingga presiden sekalipun.

berbagai faktor menjadi penyebab wanita memilih untuk bekarir. entah itu karena tingkat pendidikan yang tinggi sehingga sayang jika hanya menjadi ibu rumah tangga, dorongan dari orang tua yang menuntut untuk bekerja, penghasilan suami yang belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga, atau dengan bekerja wanita merasa lebih dihargai keberadaannya, bekerja juga menjadi ajang aktualisasi diri wanita, mampu meningkatkan wawasan yang akan berdampak pada peningkatan pola asuh anak nantinya, hingga menunjang kebutuhan finansial keluarga.

tapi disisi lain, dengan memilih menjadi wanita karir, akan ada harga yang harus dibayar sebagai bentuk pengorbanan. sebut saja pengorbanan waktu luang. dengan memilih menjadi wanita karir, secara otomatis waktu luang untuk keluarga akan semakin berkurang karena harus dibagi dengan pekerjaan kantor. urusan rumah tangga akan menjadi terbengkalai jika wanita karir lebih fokus dengan karirnya sendiri.

secara pribadi, saya agak tidak sepakat dengan konsep wanita kantoran. ada baiknya jika wanita sebagai selayaknya wanita tetap mengurusi rumah tangga tanpa harus ikut dipusingkan dengan masalah kantoran.

bukankah, menurut teori struktural fungsionalis, setiap orang mempunyai peran dan fungsinya masing-masing, dan jika ada yang melenceng dari fungsinya, maka akan terjadi konflik.

masih secara pribadi, entah saya masih kurang kritis atau tidak, saya menganggap sudah semestinya wanita yang telah menikah bertugas mengurusi keluarganya, sedangkan sang suami lah yang mencari nafkah. sedangkan sang anak bertugas untuk belajar dan mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan sebelum menggantikan posisi ayah dan ibu mereka.

saya menganggap menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan mulia yang sangat susah untuk dikerjakan. bayangkan jika seorang ibu tidak terlalu memperhatikan kondisi keluarganya, terutama anak, karena tuntutan pekerjaan. sang anak akan kekurangan kasih sayang dan akan berdampak pada kondisi psikologinya. ujung-ujungnya sang anak bisa saja memilih tempat lain untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari rumah.

apalagi di dunia yang telah memasuki zaman globalisasi. apapun yang diinginkan akan dengan sangat mudah didapatkan, terlebih tanpa pengawasan dari orang tua.

lagi-lagi secara pribadi, saya menyarankan untuk wanita-wanita lajang diluar sana, ada baiknya kita berkarir sebagai ibu rumah tangga saja. bagi saya cita-cita menjadi ibu yang baik lebih sulit dibanding membangun istana putri duyung di palung laut terdalam. kenapa sulit ? karena menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya. semua berasal dari naluri. menjadi ibu yang baik dibutuhkan pengakuan dari seluruh keluarga. suami juga anak. bayangkan jika salah satu diantaranya terlantar?

bukankah indah rasanya jika, seorang wanita memfokuskan diri pada keluarganya. sarapan enak akan selalu tersedia setiap pagi dimeja, rumah akan selalu bersih, anak-anak akan selalu punya teman bercerita dan berbagi keluh kesah, setiap malam ruang keluarga akan hangat dengan perbincangan-perbincangan antar keluarga. bukannya sibuk dengan urusan masing pekerjaan masing-masing.

saya adalah seorang pemimpi. saya masih bemimpi suatu hari nanti akan melanjutkan pendidikan di negeri sakura sana. saya juga masih memimpikan akan meluncurkan sebuah buku yang murni hasil tulisan saya. tapi impian terbesar saya adalah menjadi seorang ibu yang baik. yang menuntut ilmu setinggi-tingginya tapi tidak sungkan untuk menunduk demi mengikat tali sepatu anak. wanita yang mampu bersosialisasi diluar tapi tetap tidak lupa untuk menyanyikan lagu untuk menidurkan sang anak. wanita yang suatu hari nanti, anaknya akan menulis blog seperti ini, dan menceritakan betapa hebat ibunya. :)

Minggu, 17 Maret 2013

Anak-anak bukan badut !

ketika sedang asik melihat kotak elektronik yang menampilkan berbagai gambar dan suara, mengganti-ganti saluran siaran hingga perhatianku terhenti pada sebuah siaran yang menampilkan pentas anak-anak kecil yang memperebutkan gelar 'miss cilik'. pentas tentang sekumpulan anak kecil berjenis kelamin perempuan berusia sekitaran tiga hingga delapan tahun berlenggak lenggok di atas panggung. secara kasat mata tidak ada yang salah dengan siaran itu.

Anak-anak sekarang diajarkan tentang bagaimana menjadi cantik sejak kecil. muka polos mereka telah dilapisi bedak tebal yang memutihkan wajah, sehingga nantinya yang cantik adalah yang berdandan. padahal make-up tidak seharusnya berada di wajah mereka. bagiku make-up hanya diperuntukkan bagi mereka yang merasa jelek dan tidak bersyukur atas pemberian tuhan. untuk merekalah make-up diciptakan bukan untuk anak-anak kecil tadi. belum lagi tentang baju-baju yang mereka kenakan. ada yang mengenakan drees pendek sepaha, sepatu hak tinggi, jaket kulit, boots kulit, legging jala-jala yang robek sana-sini, juga tanktop hitam. bahkan sejak kecil mereka telah belajar berpenampilan seperti preman pasar.