RSS Feed
Tidak semua yang ku tulis adalah aku, dan tak semua yang kau baca adalah kamu.
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

Singa dan Zebra

Di suatu padang yang dekat dengan hutan rimba, hiduplah seekor zebra. Zebra yang selalu ceria, lincah bergerak kesana-kemari. suka bermain dan berlari mengelilingi padang dengan kaki kurusnya.

Zebra menghabiskan harinya kebanyakan dengan bermain bersama anak rusa, anak gajah, dan anak burung pipit. mereka sering bertemu di padang, berlari-lari mengelilingi padang hingga capek, kemudian berbaring terlentang bersama menikmati awan yang berarak di langit. mereka bermain hingga sore hari dan malamnya pulang ke gubuk masing-masing.

Suatu hari, sang Zebra penasaran, perihal apa yang ada di dalam hutan rimba. dari luar hanya terlihat sepi yang mencekam. diajaknya anak rusa, anak gajah, dan anak burung pipit. tapi mereka tak ada yang berani. jadilah Zebra terpisah dari teman-temannya. Sendirian ia pergi memasuki hutan rimba.


Minggu, 12 Januari 2014

Pembunuh (3)

berapa kali harus ku katakan? aku mencintai pacarku. sangat.
iya aku mencintainya.
sebagai balasan karena telah melenyapkan kekhawatiranku yang lalu. aku telah memberikannya sebuah kejutan.

sini mendekat, akan ku ceritakan padamu bagaimana kejutannya.

tiga malam yang lalu, pacarku pulang terlambat. aku telah diberitahukan sebelumnya. alasannya klasik, ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikannya. tapi dia berjanji tidak akan membawa pulang seorang wanita. lagi malas bermain-main dengan darah katanya.

malam itu situasinya sangat tepat untuk menyelenggarakan sebuah kejutan. jadi malam itu, sengaja ku buat suasana kamar menjadi agak-agak romantis. lilin-lilin kecil sengaja ku deretkan dari pintu masuk menuju pintu kamar terus hingga berhenti di depan sebuah kursi putar, kursi yang biasa ku pakai ketika sedang melamun di dekat jendela sembari menunggu pacarku pulang.


Rabu, 08 Januari 2014

Perempuan Sabar yang Pendendam

seperti nyala api yang membara. keinginanku melihat kematiannya tak pernah padam. dendamku selalu terisi tak pernah kosong. meskipun dia pernah menjadi yang aku cintai, yang serakah atas aku juga atas cinta-cinta yang lain. tapi aku tak bisa berbuat apapun. aku memendam dendam yang dibungkus selaput cinta.

***

Sabtu, 30 November 2013

Pembunuh (2)

kotak pandoraku terbuka. kuharap isinya tak terhambur, terbongkar kemana-mana.

minggu lalu, seseorang berhasil memecahkan tanda yang iseng-iseng ku tampilkan di dunia maya.
aku ketahuan. pacarku juga ketahuan. kenakalan kami ketahuan.
perlukah kubunuh orang itu? sekalian. supaya ceritaku tamat pada lidahnya.
tak akan sulit untuk melenyapkannya. hanya satu nyawa. ditambah satu mayat lagi yang harus ku bakar di lapangan dekat apartemenku.

Sabtu, 02 November 2013

Pembunuh.

Kuberitahu kau dua fakta mencengangkan yang tak kalian ketahui.

Pertama, Kekasihku seorang pembunuh. sadis? berdarah dingin? tentu saja!
Kedua, Aku hanyalah kekasih simpanannya. tak lebih dan tak kurang.

Aku telah tinggal dengannya selama kurang lebih 15 tahun. dan umurku sekarang baru saja menginjak 20 tahun. Di usia 5 tahun aku diambil olehnya saat sedang berjalan-jalan di tepi jalan.

waktu itu aku sedang kabur dari rumah. jengah melihat orang tuaku yang bertengkar terus sepanjang hari. terlalu jengah hingga kuputuskan menikam mereka berdua saat mereka sedang pulas-pulasnya tidur siang. hanya menikam. tepat di jantung. juga paru-paru. dan tak lupa ku potong lidah mereka. agar nantinya di surga kelak mereka tak bisa saling beradu mulut lagi. setelahnya aku keluar berjalan-jalan dan tak ada niat untuk pulang.

Cermin.

Seorang Putri kini telah menjadi gila. termenung seharian di depan cermin. menatapi bayangan sendiri. terlalu mencintai diri sendiri sepertinya.

sesekali Ia bergumam tentang wajahnya yang jelita berseri-seri. pipinya yang merona merah muda. rambut dan alisnya yang hitam pekat seperti langit malam tanpa bintang. matanya bulat sempurna dengan pupil kecoklatan sewarna coklat topaz. juga hidung sempurna yang sekiranya menyimpan aroma wangi surga.

Ahh~ tapi apa daya, Sang Putri tak lebih dari seorang gila. kecantikan membuatnya gila. Ia terlalu mencintai dirinya sendiri. Hingga lupa cermin bisa saja muak dan malah memecahkan diri sewaktu-waktu.

Rindu.

Amel tak pernah percaya mitos. tak pernah sekalipun.

Tapi senja kali ini memaksanya percaya. Kata nenek dan sesepuh-sesepuh keluarga Amel, sehelai bulu mata yang lepas dari tempatnya menandakan bahwa ada seseorang di luar sana yang sedang merindukan pemilik helaian bulu mata yang terlepas. awalnya, dia menganggap mitos tentang rindu ini konyol. Dulunya Amel beranggapan, rindu haruslah diutarakan, kalau tidak, rindu tak akan pernah sampai ke tujuan dan hanya akan menguap dalam doa-doa.

hingga kemarin, dia rasakan sendiri. rupanya kadang ada rindu yang tak mampu diucapkan. rindu tak selamanya dapat diutarakan. kini Amel hanya termenung di depan cermin yang tingginya tak lebih dari satu setengah meter. menatap jauh ke dalam cermin. menemukan sehelai bulu matanya yang gugur. berharap ini adalah pertanda. bahwa rindunya terbalaskan. semoga saja.

Selasa, 15 Oktober 2013

untitled



Engkaulah pelita tempat berkumpulnya cahaya harapan.
Engkaulah penujuk jalan yang diselubungi kabut-kabut kepercayaan.
Engkaulah semesta berisi partikel-pertikel cinta kami.
Engkau, dimana segala harapan digantungkan
Padamu, yang segala percaya ditautkan
Untukmu, yang segala cinta diberikan
Wahai, pemerintah :’)
 (catatan kecil yang ditulis disela-sela bingkai kekecewaan-masyarakat)

Aku ingin bercerita. Tentang sebuah kisah yang cocok menyandang predikat ‘miris’ terlebih ‘ironis’. Cerita ini berkisah tentang harapan yang dibumbung tinggi tapi kemudian dijatuhkan. Berkisah tentang rasa percaya yang dijaga sepenuh hati tapi kemudian dihamburkan penuh kesia-siaan. Tentang rasa cinta yang terlalu dalam tertanam tapi justru kabur terseret arus gelombang keserakahan. Kisah ini tentang  yang sering kalian sebut sebagai Masyarakat dengan yang kalian elu-elukan sebagai Pemerintah.

Bagai kain polos tanpa motif Masyarakat punya sejuta harapan, berlapis-lapis kepercayaan, hingga cinta yang terang benderang. Masyarakat berharap memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bersandar dikala susah, sosok yang bisa diandalkan ketika yang lainnya sibuk dengan diri mereka sendiri. kemudian hadirlah dia disaat-saat yang tepat. Pemerintah hadir dengan sejuta kata-kata manis. Kata-kata manisnya melantun menemani Masyarakat mengawali dan mengakhiri harinya. Pemerintah selalu datang, membuat Masyarakat melayang dengan wibawa dan janji-janji.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Rewriting Story : "The Little Mermaid"

tersebutlah seekor raja duyung sekaligus dewa laut, bernama Neptunus. mempunyai 3 anak yang dengan kelebihan masing-masing. Anak pertama, duyung dengan sirip ungu, bernama Putri, akrab dipanggil puthe dikalangan para geng hiu. kelebihannya? cerdas. nilainya rata-rata A untuk semua mata pelajaran yang ada di akademi mermaid. mulai dari mata pelajaran "pengantar kesamuderaan" hingga "teori kehidupan bawah laut" dikuasainya. tak ada yang bisa mengalahkan nilainya pada pelajaran "teknik penguasaan sirip". soal akademik, semua takluk padanya.

anak keduanya yang bernama Nunu, mempunyai sirip berwarna merah. nunu menguasai berbagai macam bahasa. mulai dari bahasa kuda laut hingga bahasa kura-kura semua dikuasainya. tak heran dia mempunyai lingkup pergaulan yang luas. dipagi hari dia biasa bergaul dengan para ikan buntal, membicarakan ganggang laut yang semakin langka juga gosip asmara para artis Aqualywood. di siang hari, dia bisa dilihat berkumpul dengan para belut listrik. membahas tentang peta perpolitikan menteri menteri laut. dan di malam hari, waktunya dia bercengkrama dengan sang kura-kura, merenung tentang arti hidup dibawah air.

si bungsu, dengan sirip berwarna biru, bernama Ayu. si bungsu ini suka sekali menulis dan melukis. dia suka melukis siluet bulan di setiap karang yang ditemuinya. atau menulis keseharian para duyung diistana. jadi jangan heran jika karang-karang yang ada disekitar istana telah penuh dengan lukisan si bungsu, atau jika kalian masuk ke perpustakaan istana, akan ada banyak sekali puisi ataupun cerita karyanya.


Sabtu, 05 Oktober 2013

Cerpen : "Snow White Sang Janda"

Snow White digugat cerai. Enam bulan setelah penikahannya, sang Ratu meninggal dunia. Dibunuh lebih tepatnya. Disekujur tubuhnya terdapat tanda-tanda bekas penyiksaan. Semua bukti-bukti tindak kriminal mengarah pada kesimpulan Snow White adalah pelakunya.

Snow White diseret keluar dari istana dan dibawa ke penjara kerajaan. sesaat sebelumnya, dengan tangan terikat dibelakang, dia bercerita.....

***

apa yang kalian ketahui tentang kisah hidup Snow White? bahwa dia adalah contoh teladan dari sebuah kesabaran? bahwa keserakahan sang Ratu adalah contoh terbaik atas perasaan iri hati yang harus dihindari? bahwa sang pemburu adalah contoh terbaik untuk tingkah laku yang welas asih? atau para kurcaci adalah contoh terbaik dari persahabatan? semuanya mungkin benar, jika kalian hanya melihatnya dari satu sisi. Sisi Si Snow White yang terzalimi.

yang kalian tahu, Snow White adalah korban kedengkian sang Ratu, ibu tirinya, atas kecantikan yang dimilikinya; kulit seputih salju, bibir semerah darah dengan rambut sehitam bingkai jendela. Sayangnya, ada yang tak kalian ketahui.

Jumat, 04 Oktober 2013

Bagian 2 "Dialog : Nalar dan Rasa"

setelah sekian lama bersitegang, akhirnya Nalar dan Rasa kembali bertemu. "Ingin berdamai dengan sungguh-sungguh" kata Rasa. Sedangkan Nalar kasihan dengan pemilik tubuh yang selalu terisak tiap malam karena Rasa yang tak pernah diam. Sengaja mereka berjanji untuk bertemu di ruang hati terdalam, agar tak ada gangguan dari siapapun atau apapun.

Mau kamu sebenarnya apa sih ?

Kamu sendiri maunya apa ?

aku mau berdamai. ayo kita buat kesepakatan.

Percuma. Aku tidak akan pernah sepemahaman denganmu.

loh ? kenapa ?

karena kamu absurd. nonsense !

itu karena kamunya yang terlalu perhitungan. setiap detil dipikir hingga dalam.

buat apa memperjuangkan sesuatu kalau peluang untuk menang tak sampai 50 % ? buang-buang tenaga dan air mata tau!

nah. itu dia. kamu terlalu pesimis.

bukan pesimis. namanya realistis. memangnya kamu! kerjanya cuma menaruh harapan setinggi angkasa.

kamu tidak tahu kapan keajaiban akan datang.

memangnya kamu tau ? tidak juga kan ? 

siapa tau saja benar, harapan itu nanti akan jadi kenyataan.

kalau salah bagaimana? kasian si pemilik tubuh ini, harus berapa banyak lagi air mata yang mengalir hanya karena kau terlalu gampang membumbungkan harapannya ?

sudah.sudah.
ayo berdamai. hentikan pertengkaran ini.

sudah ku bilangkan, kita tidak akan pernah cocok.

aku tak memintamu untuk mendukungku, aku hanya minta kamu untuk diam.

tidak bisa. kalau aku diam, artinya si pemilik tubuh ini tidak akan pernah sadar.

ku mohon. setidaknya hingga hatinya sembuh benar. kalau kau diam, aku juga tak akan banyak bicara. kasihan si pemilik tubuh, kerjanya hanya menangisi konfrontasi kita. hanya hingga hatinya kembali utuh entah karena transplan atau hasil hibah dari seseorang yang lain. hingga saat itu tiba, mari bekerja sama.

oke. aku juga kasihan padanya.

Dan perjanjian gencatan senjata mereka di perpanjang.

 

Minggu, 16 Juni 2013

Berjuang Dalam Perbedaan

terkadang perbedaan memang bisa sangat menyulitkan. bahkan bisa memisahkan.

Leony, teman yang telah kuanggap sebagai saudara sendiri, menghubungiku kemarin malam. lewat telepon seluler dia bercerita tentang kisahnya. kisah yang tak pernah kutau pernah dialaminya karena jarak dan kesibukan yang memisahkan kami.

ini kisah tentang perbedaan. lagi-lagi tentang perbedaan.

kisahnya bermula sejak 6 bulan yang lalu. dia berkenalan dengan seorang Pria. Pria yang mengenalkan dia tentang arti cinta. pertemuannya cukup sederhana, hanya karena sebuah buku, mereka pun saling mengenal nama. hobby membacanya ternyata juga dimiliki oleh Firman, sang lelaki yang mengenalkan cinta padanya.

tanpa disadari oleh mereka berdua, diskusi-diskusi hangat tentang buku yang sedang mereka baca mengalirkan suasana hatinya pada kondisi yang mendekatkan. hingga secara kasat mata, mereka telah saling memberi hati. memberi kepercayaan. memberi cinta. cinta memang sesederhana itu, Leony jatuh pada cinta, dan Firman menangkapnya.

Firman adalah mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, mengambil juruan Hukum karena idealismenya tentang keadilan. dan tentu saja itu menjadi poin plus dan menambah kekaguman Leony padanya. semakin lama mereka semakin tenggelam dalam samudra cinta. sedangkan Leony adalah mahasiswi semester 5 universitas ternama di makassar.

mereka adalah konsep pasangan ideal. saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan. tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bersama. tapi bukankah didunia ini tidak ada yang sempurna? begitu juga dengan hubungan mereka. konsep pasangan ideal yang dilekatkan oleh teman-teman mereka terhadap hubungan kedua insan ini terhalang satu perbedaan besar. Agama. Keyakinan. Kepercayaan.

Leony adalah seorang katolik yang taat. tumbuh di lingkungan keluarga yang religius. oma, opa, dan beberapa omnya mengabdikan dirinya menjadi pendeta di gereja di kampung halamannya. sedangkan firman, anak laki-laki pertama dikeluarganya, yang diharapkan akan memberi contoh pada adik-adiknya. menghabiskan masa SMP dan SMA nya disalah satu pesantren terkenal di daerah Jawa sana. sudah pasti adalah seorang muslim yang taat.

entah harus menyalahkan siapa? dua anak manusia bertemu, dengan polosnya menyerahkan hati tapi terhalang sebuah perbedaan besar. haruskah mereka menyalahkan semesta?

disela-sela ceritanya, aku hanya bisa berkata "sabar" sambil berusaha menenangkan isak tangisnya.

dalam hati aku heran pada mereka berdua. aku sempat bertanya "kalian sadarkan tentang perbedaan besar ini? kenapa masih diteruskan?"

Leony semakin dalam jatuh pada kesedihannya, dia terdiam lama sekali, menahan tangis yang ingin keluar lebih deras. sepertinya aku telah salah menanyakan pertanyaan.

beberapa saat kemudian, ia menjawab. pada awalnya mereka berusaha menerima, menormalkan segala sesuatunya. bertoleransi terhadap satu sama lainnya. berharap akan ada jalan keluar dengan sendirinya. tak jarang perbedaan diantara mereka dijadikan bahan candaan di malam hari menjelang tidur. tapi keadaan malah semakin memburuk.

manusia memang egois dalam hal cinta. mereka memutihkan segala macam perbedaan hanya karena keinginan bersama yang lebih kuat. inikah konsep "cinta itu buta"?

mereka berusaha mencari pembenaran atas hubungan mereka, berusaha mencari tokoh-tokoh senasib yang sukses hingga ke jenjang pernikahan. tapi sejarah berkata lain. menurutku mereka sangat romantis, memilih untuk tetap bersama walau perbedaan menghadang.

di depan masing-masing mereka saling menertawakan perbedaan, tapi dibelakang panggung, mereka saling mendoakan. berdoa pada tuhan dengan nama yang berbeda.
setiap minggu, Leony masih sering ke gereja, melipat tangan dengan kalung salib yang melingkar pada lehernya. sedangkan Firman ia rajin melaksanakan sholat malam, bersujud memohon ampun, dan meminta solusi dari tuhan. mereka saling memperjuangkan cinta dalam bahasa yang berbeda. mereka saling mendoakan dengan cara yang berbeda. Leony dengan Salib ditangannya, sementara Firman dengan tasbih digenggamannya.

ketika Leony telah selesai bercerita, aku tak tahu harus berkata apa. tak ada solusi yang bisa kuberikan. aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. aku tak berani menyarankan agar mereka berpisah saja. karena jika melihat dari latar belakang keluarga, sangat mustahil menyuruh salah satu dari mereka untuk berpindah keyakinan. mereka sama-sama taat juga sama-sama saling mencintai.

siapakah sebenarnya yang menciptakan perbedaan ini? tuhan kah? semesta kah? siapa yang patut disalahkan?

hingga kini mereka masih menyimpan tanya besar di benak masing-masing, apakah Cinta dan Keyakinan tak bisa di satukan?

Jumat, 14 Juni 2013

Jarak Kita Jutaan Tahun Cahaya

tadi sore kutemukan sebuah surat. surat dari lembaran alang-alang biru laut.
sepertinya surat sepasang kekasih yang dipisahkan jarak.
surat yang ditulis oleh putri duyung untuk malaikat di langit sana.
mungkin lemparan putri duyung kurang kuat, hingga surat itu hanya mengambang di permukaan laut Bumi.
seperti ini bunyinya::

Jarak.
Sebuah kata yang mampu menciptakan rindu.
Kata yang menggiring sendu, disetiap malam kelabu.
Sebuah kata yang sangat mengambil andil dalam kisahku.

kisahku bukan tentang sepasang kekasih yang dipisahkan oleh jarak berkilokilo meter, atau dipisahkan oleh lautan. kisahku juga bukan dipisahkan oleh jarak yang bernama kematian. kisahku lebih unik daripada itu. kisahku dipisahkan oleh jarak jutaan tahun cahaya, yang hanya bisa dihubungkan oleh doa-doa tulus nurani.

seorang putri duyung yang berasal dari planet ketiga di sistem tata surya, mungkin tidak akan pernah punya kesempatan menyatu dengan malaikat senja yang tinggal di planet mars sana. bahkan sejak awal kita memang dilarang menyatukan jiwa. tempatmu tinggi di langit ketujuh bersama puluhan bidadari dengan kecantikan yang berlebihan, sedang aku? aku hanya bisa merindu dari bawah palung laut terdalam. menatap nanar ke langit mars penuh rindu dan harap.

kau selalu keluar pada malam hari saat pintu langit terbuka pas setelah senja menunaikan tugasnya, sedang aku hanya bisa keluar setelah fajar menyingsing, disaat-saat laut sedang dalam kondisi pasang. seakan perbedaan lingkungan belum cukup menjadi pemisah di antara kita, kenyataan bahwa kita berada di planet yang berbeda malah memperbesar penghalang di antara kita.

kadang aku menyesal mengapa kita harus bertemu dan saling menjatuhkan hati pada pertemuan pertama yang sangat singkat itu. kita hanya diberi jatah setengah jam *menurut perhitungan jam manusia* untuk bertemu oleh semesta dihari-hari biasa. parahnya waktu yang sesingkat itu, tidak akan pernah cukup untuk mengutarakan semua rindu yang tertahan.

pernah aku memohon pada semesta, agar dia ciptakan waktu yang lebih lama, sebagai imbalannya aku akan membantunya menjaga ketentraman laut Bumi dibagian barat, tempat kerajaan neptunus berdiri. semesta berbaik hati, hingga dia menghadirkan gerhana bulan. sekali dalam satu periode revolusi Bulan.

aku tak tau, pengorbanan yang telah kau lakukan untuk memperjuangkan kita. namun, ada ataupun tidak ada, aku tak pernah menuntut.

aku hanya ingin kau tau, ada namamu di setiap doa yang kupanjatkan di kuil Aquarida. semoga doa itu sampai padamu. atas nama cinta, aku membebaskanmu untuk berlabuh ke hati bidadari lain di langit sana. aku juga tak akan menuntutmu untuk setia di tengah beribu perbedaan yang memisahkan. aku hanya memintamu bahagia. denganku ataupun tanpaku.

kita memang dipisahkan oleh jarak jutaan tahun cahaya, tapi yang kuyakini, kita satu dalam cinta.

begitulah kisah mereka. kuharap semesta akan sedikit lebih berbaik hati pada mereka.
love it!

Kamis, 23 Mei 2013

sang bocah di dunia para dewasa.

seorang bocah kecil polos tersesat di dunia orang dewasa yang penuh konspirasi sejarah. mungkin tersesat bukanlah diksi yang tepat, yang jelas sang bocah saat ini sedang terduduk merengkuh lutut sambil sesekali terisak. ghuenzee, nama sang bocah.

ingin sekali aku mengulurkan tangan, menerangi jalan setapak agar ghuenzee bisa pulang kembali ke rumahnya. tapi itu berarti aku memanjakan. dan dia tidak akan pernah dewasa. memang akulah yang memaksanya masuk ke dalam dunia mereka. anggap saja aku jahat.

belum cukup sebulan ghuenzee disana, belum juga terlihat tanda-tanda adaptasi yang berhasil. sebaliknya, dia dikucilkan dan kini menangis di pojok hutan terkelam. aku tak habis pikir, harusnya dia sudah dewasa sekarang. harusnya dia sudah bisa memahami soal-soal kehidupan.

selama sebulan ini dia telah bertemu dengan beberapa soal kehidupan. aku ingat sekali, soal kehidupan pertama datang saat dia baru saja ingin melintasi jembatan pilihan. soal itu bernama "hati atau hari?" kini dia disuruh memilih jembatan di sebelah kanan yang bentuknya lika-liku, penuh dengan harapan indah dan juga ekspektasi kebahagiaan. jembatan itu bernama 'jembatan hati'. tapi ujungnya tak terlihat, ditutupi kabut misteri. tak pasti masih adakah kelanjutannya, atau justru jurang dalam yang menunggu.

sedang di sebelah kirinya, juga ada sebuah jembatan, lurus, monoton, sesekali bergelombang, rapuh di beberapa bagian dan panjangnya keterlaluan, tapi terlihat daratan di ujung sana. terlihat kepastian menapak di sisi seberang. namanya 'jembatan hari'. beberapa bocah yang telah melaluinya, melakukan kesalahan dengan memilih sang hati, padahal jurang kelam menunggu di balik kabut.

sedang ghuenzee, lain dari yang sudah-sudah, dia memilih membuat perahu, agar bisa memetik harapan di 'jembatan hati' tapi juga tetap bisa berjaga-jaga jika nantinya ada jurang di ujungnya. anggap saja dia lulus pada soal kehidupan pertama.

tiga hari yang lalu, dia bertemu soal kehidupan lainnya, namanya 'komitmen'. sang komitmen telah menyekap beberapa bocah lainnya yang belum bisa menyelesaikan masalahnya, termasuk ghuenzee. para bocah disuruh untuk menyelesaikan masalah, ghuenzee yang datang terakhir hanya bisa bertanya kepada yang lainnya, apa sebenarnya masalah sang 'komitmen'. dia berniat membantu, menyumbangkan beberapa saran hasil pengalamannya.

namun, karena ghuenzee adalah bocah terkecil disana, dia tidak dipandang ada, diacuhkan, dikucilkan, ditinggal sendirian. setiap bertanya, tak ada yang menjawab, bahkan terkadang dia dihardik serta diusir dari kerumunan. setiap bertingkah, dia malah dianggap lancang dan dihujani tatapan sinis serta senyuman penuh ledekan.

aku tau, kini ghuenzee mulai capek bertanya dan bertingkah. dia kini merasa beda dunia. bagai bocah abad 20 yang hidup pada abad 21. dia tidak cocok di dunia orang dewasa, dunia penuh soal-soal kehidupan. berulang kali dia meminta kepadaku dikembalikan ke dunia para bocah. tapi aku menolak. ini tidak sesuai dengan skenario yang telah ku buat. ghuenzee harus tetap ada di sana, sampai dia benar-benar telah menjadi bagian dari dunia dewasa.

capek memohon kepadaku, sore tadi dia berjalan lemas menuju kerumunan yang belum juga selesai debat kusir. dia berlutut dan memohon yang disertai isak tangis.

"kumohon, beri aku pengetahuan biar secuil, cukup yang boleh kuketahui, selebihnya seikhlas kalian saja" katanya.

tetap tak ada yang berubah.

Senin, 29 April 2013

cerita dalam cerita #2

Namanya Raja, lelaki yang telah memungut binder biru tadi. lelaki yang sebentar lagi akan menyandang status 'sarjana'. kini dirinya sedang terburu-buru untuk bertemu dosen pembimbingnya untuk prosesi persetujuan terakhir sebelum akhirnya dia mendaftarkan diri untuk ujian meja.

kini Raja sedang berada di depan pembingbingnya, menjelaskan segala revisi yang telah dikerjakannya. sang dosen pembimbing dengan seksama membolak-balikkan lembar demi lembar. memeriksa lebih teliti dari yang sudah-sudah. sesekali bertanya, yang dijawab dengan tegas dan penuh percaya diri oleh Raja. setengah jam berakhir dan tanda tangan pembimbing telah didapatkannya. setengah jam paling menegangkan yang pernah dialaminya 3 bulan belakangan ini.

selesai mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian meja, Raja bergegas menuju gazebo di sudut kampus. rupanya sedari tadi sesosok wanita manis telah menunggunya. dia adalah Putri. hari ini Raja telah berjanji, jika semua urusannya tentang akademik telah selesai, Raja akan menemani Putri menonton film kesukaannya yang sekarang tengah di putar di bioskop. namun ketika mereka bertemu dan sebentar lagi akan berangkat sebuah sms mengejutkan Putri dan mengubah rencana mereka.

"kita nggak jadi nonton dulu yah, aku harus ke rumah sakit, ada keluarga yang kecelakaan" ucapnya.

Raja mangut-mangut tanda mengiyakan.
"sini sekalian aku antar"

jadilah mereka kini beranjak dari kampus menuju rumah sakit.

Raja tak pernah menyukai rumah sakit. baginya rumah sakit identik dengan kematian. dan yang namanya kematian selalu bersahabat dengan rasa kehilangan. tidak ada rasa kehilangan yang menyenangkan.
itu sebabnya ketika ditawari mampir sejenak untuk bertemu dengan keluarga Putri, Raja menolak. memasuki lobby rumah sakit saja, rasa gugup akan menjalar disekujur tubuhnya.

tidak terasa senja telah menyambut ketika Raja kini sampai di kediamannya. cahaya remang orange yang temaram memasuki sela-sela kamarnya. suasana damai tak pelak terpancar dari ruangan pribadi berukuran 4x3 meter tersebut. sedikit menyegarkan diri dengan mandi sore akan membuat tubuhnya lebih rileks lagi. Raja segera melepaskan tas, menyambar handuk yang tergerai di sandaran kursi dan masuk ke kamar mandi untuk merefreshingkan dirinya.

selesai mandi, Raja berpakaian. stylenya santai. hanya celana khaki pendek dengan kaos oblong berwarna putih. malam ini ingin dia habiskan bercumbu dengan skipsinya yang hanya tinggal menunggu panggilan untuk ujian meja. ada rasa bangga dalam dirinya yang tidak dapat dia lukiskan sendiri. akhirnya setelah empat tahun dua bulan melalang buana di dunia perkuliahan dan selama 18 tahun bergelut di dunia persekolahan, sebentar lagi Raja akan mendapat gelar sarjana. gelar yang akan membahagiakan kedua orang tuanya.

ketika ingin mengeluarkan skripsinya dari dalam tas, perhatiannya teralihkan pada binder biru yang di pungutnya tadi. penasaran Raja mengeluarkan bindernya dan mulai membukanya perlahan.

pada halaman sampul bagian dalam terdapat paragraf berisi peringatan dengan kata "ATTENTION" di bagian atas di tulis tebal dengan huruf kapital.

"ATTENTION"
binder ini merupakan konsumsi pribadi dan tidak untuk di sebarluaskan. binder ini berisi tentang segala pikiran yang tidak sempat terlantun dalam kata-kata. jika binder ini berada di tangan kamu, berarti telah terjadi sesuatu denganku, karena aku tidak akan pernah melepaskan binder ini. aku juga tidak akan lupa sesuatu yang menyangkut binder ini. kamu bisa menganggap binder ini adalah nyawa ketigaku. kamu boleh memilih dua hal, baca isi binder ini kemudian membakarnya dan tidak menyebarluaskan isi binder ini atau jangan dibaca dan tetap membakar binder ini selanjutnya. 


selamat memutuskan, F.


ps:: isi pikiranku sangat menghanyutkan. beware!


ini mirip seperti cerita di komik-komik jepang. ada buku yang terlantar yang kemudian ternyata buku tersebut punya keajaiban yang akan merubah nasib sang pemungut buku tersebut. karena tak ingin disiksa rasa penasaran, Raja segera membaca binder biru itu tanpa pikir panjang. paragraf peringatan di halaman pertama tak diindahkannya.

lembar pertama pun di bukanya.....

***bersambung***

Senin, 22 April 2013

Api dan Air


Di sebuah hutan belantara di negeri antah berantah, kebakaran besar terjadi. Kebakaran itu membumi hanguskan semua pepohonan. Apinya melambung tinggi. Membakar semua yang dilewatinya. Kebakaran hutan kini semakin menjadi-jadi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kobaran api. Semakin tinggi dan meninggi tanpa ada yang membatasi.

Beberapa saat kemudian hujan turun dengan perlahan. Rintik demi rintik, tetes demi tetes jatuh membasahi tanah. Perlahan sang hujan bertambah deras. Dengan kecepatan lambat kobaran api pun padam oleh tetesan hujan. Kini, tak ada lagi dedaunan hijau, yang ada hanyalah ranting-ranting gosong. Sekarang tidak ada lagi hutan tropis yang meneduhkan, yang ada hanya kumpulan pohon gersang terbakar.

Minggu, 21 April 2013

cerita dalam cerita

Fatma adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Makassar. saat ini dia sedang mengalami masalah yang menurutnya sangat menganggu aktivitasnya sehari-hari. dia menganggap dirinya berkepribadian ganda. entah apa yang terlintas dipikirannya hingga konsep "berkepribadian ganda muncul begitu saja. tidak ada yang mengetahui kegelisahannya tersebut. Fatma cenderung pintar menyembunyikan perasaannya dari zona pertemanannya.


Minggu, 31 Maret 2013

"Kehilangan" bukan rasa yang menyenangkan!

kehidupan itu bagaikan rumah. punya pintu, jendela, dinding dan atap. kita bebas membiarkan pintu kehidupan kita terbuka, dengan begitu akan banyak orang yang datang masuk dalam kehidupan kita, akan banyak kenalan baru yang bertambah. begitu juga dengan jendela, terkadang beberapa orang tidak tau caranya masuk melalui pintu, maka jendela hadir untuk orang-orang yang lebih nyaman masuk dalam kehidupan tanpa melewati pintu. bahkan beberapa orang kadang merobohkan dinding juga menghancurkan atap hanya untuk bisa masuk dalam kehidupan seseorang.

terutama jika menyangkut hati.


Minggu, 17 Maret 2013

Cinta itu Tirani

Selintas lalu dalam perjalanan pulang, sambil berjalan kaki menyusuri padang bunga indah nan mempesona, terlihat semungil anak manusia yang sedang memperhatikan keindahan  bunga lily dan tulip di sekitarnya. Ekspresi wajahnya menujukkan rasa kagum yang teramat sangat, bagaikan baru pertama kali bertemu dengan keindahan yang tak tertandingi.  Tahukan anak kecil itu tentang kisah yang ada di balik kecantikan bunga lily dan tulip itu? Ku yakin tidak. Anak kecil terlalu polos untuk tahu kisah di balik kecantikan bunga-bunga. Mereka tidak akan pernah mengetahui pengorbanan sebesar apa yang tersembunyi dibalik sebuah keindahan. Mungkin juga tidak denganmu.

Sini biarkan aku menceritakan kisah pengorbanan itu. Agar kalian bisa memberitahu sahabat, saudara, teman, mantan teman, bahkan calon teman kalian akan arti pengorbanan, hingga pada akhirnya nanti kalian akan semakin menghargai arti pengorbanan sekecil apapun itu. Ini adalah kisah tentang pengorbanan tanah kepada benih bunga yang menjadikan bunga memiliki pesona yang teramat.

Senin, 25 Februari 2013

Kisah Aku dan Kamu yang belum Usai

ini seperti kisah dongeng yang belum selesai. Sama seperti semua kisah dongeng, dalam kisah kali ini, seorang pecinta bernama ‘aku’, berjuang merebut hati anak manusia bernama ‘kamu’. Tapi perjuangan kali ini berbeda, kali ini bukan tentang perjuangan bak ksatria penunggang kuda dengan tombak di tangan kirinya, dan yang kanan sibuk mengatur laju kuda, bukan! Bukan juga tentang perjuangan pangeran charming yang menerobos benteng yang di jaga oleh naga untuk membangunkan si putri tidur, bukan! Bukan juga tentang perjuangan pria gagah berani, dengan otot yang telah melebihi kapasitas, menghalau setiap preman yang menganggu kekasihnya, bukan! Bukan tentang perjuangan seperti itu. Ini tentang perjuangan ‘aku’ yang berjuang meyakinkan diri untuk menunggu ‘kamu’ menyatakan cinta. Ini perjuangan lewat bahasa diam. Lewat kebutaan dan kebisuan, yang di lakukan ‘aku’ untuk mempertahankan ‘kita’.