RSS Feed
Tidak semua yang ku tulis adalah aku, dan tak semua yang kau baca adalah kamu.

Jumat, 14 Juni 2013

Kumpulan Sajak

entah ada energi dari mana..
atau inspirasi dari siapa..
seketika jemari menari lincah di atas keyboard hape..
tanpa permisi, tanpa campur tangan logika..
beberapa sajak tiba-tiba saja tercipta..

"Sebenarnya, aku tak keberatan saat tubuhku kau isi bait-bait luka. Asal setidaknya, kau berani menunjukan aku kepadanya"

"Dirimu menjelma jadi apapun di kepalaku. Jadi lugu. Jadi malu. Jadi candu. Jadi rindu"  


"Aku ingin membaca isyaratmu lewat sinar mata karena aku jenuh menyelami harimu hanya lewat untaian aksara"

"Aku senang lepas dari ikatan kesetiaan, setia hanya mendatangkan sedih, apalagi ketika tiba saatnya berpisah"  

"Wanita cerdas tak pernah menyesal. Seperti aku yang tak menyesal membangun mimpi bersamanya. Walau hanya sebatas mimpi"  

"Yang mengubah takutku menjadi keberanian kecil, mengubah menggigilku menjadi senyuman tipis, mengapa harus kamu?"  

"Keluarkan saja pisaunya, sayat saja sesukanya, gores saja semau-maunya. Kata hati pada sekeping rindu"  

"Rindu memang tidak membutuhkan tanya, cukup sekeping keberanian untuknya menjadi terungkap"  

"seberapa sulitkah sebuah pengungkapan, mengingat ada takut yang mengekang juga gengsi yang mematikan?"

"Sajak bodoh dengan diksi yang masih berantakan. Terlalu jujur, tanpa rasa malu. Memunculkan ingatan, menyembulkan rasa" 

anggap saja saya sedang kekurangan pekerjaan. :) 

Jarak Kita Jutaan Tahun Cahaya

tadi sore kutemukan sebuah surat. surat dari lembaran alang-alang biru laut.
sepertinya surat sepasang kekasih yang dipisahkan jarak.
surat yang ditulis oleh putri duyung untuk malaikat di langit sana.
mungkin lemparan putri duyung kurang kuat, hingga surat itu hanya mengambang di permukaan laut Bumi.
seperti ini bunyinya::

Jarak.
Sebuah kata yang mampu menciptakan rindu.
Kata yang menggiring sendu, disetiap malam kelabu.
Sebuah kata yang sangat mengambil andil dalam kisahku.

kisahku bukan tentang sepasang kekasih yang dipisahkan oleh jarak berkilokilo meter, atau dipisahkan oleh lautan. kisahku juga bukan dipisahkan oleh jarak yang bernama kematian. kisahku lebih unik daripada itu. kisahku dipisahkan oleh jarak jutaan tahun cahaya, yang hanya bisa dihubungkan oleh doa-doa tulus nurani.

seorang putri duyung yang berasal dari planet ketiga di sistem tata surya, mungkin tidak akan pernah punya kesempatan menyatu dengan malaikat senja yang tinggal di planet mars sana. bahkan sejak awal kita memang dilarang menyatukan jiwa. tempatmu tinggi di langit ketujuh bersama puluhan bidadari dengan kecantikan yang berlebihan, sedang aku? aku hanya bisa merindu dari bawah palung laut terdalam. menatap nanar ke langit mars penuh rindu dan harap.

kau selalu keluar pada malam hari saat pintu langit terbuka pas setelah senja menunaikan tugasnya, sedang aku hanya bisa keluar setelah fajar menyingsing, disaat-saat laut sedang dalam kondisi pasang. seakan perbedaan lingkungan belum cukup menjadi pemisah di antara kita, kenyataan bahwa kita berada di planet yang berbeda malah memperbesar penghalang di antara kita.

kadang aku menyesal mengapa kita harus bertemu dan saling menjatuhkan hati pada pertemuan pertama yang sangat singkat itu. kita hanya diberi jatah setengah jam *menurut perhitungan jam manusia* untuk bertemu oleh semesta dihari-hari biasa. parahnya waktu yang sesingkat itu, tidak akan pernah cukup untuk mengutarakan semua rindu yang tertahan.

pernah aku memohon pada semesta, agar dia ciptakan waktu yang lebih lama, sebagai imbalannya aku akan membantunya menjaga ketentraman laut Bumi dibagian barat, tempat kerajaan neptunus berdiri. semesta berbaik hati, hingga dia menghadirkan gerhana bulan. sekali dalam satu periode revolusi Bulan.

aku tak tau, pengorbanan yang telah kau lakukan untuk memperjuangkan kita. namun, ada ataupun tidak ada, aku tak pernah menuntut.

aku hanya ingin kau tau, ada namamu di setiap doa yang kupanjatkan di kuil Aquarida. semoga doa itu sampai padamu. atas nama cinta, aku membebaskanmu untuk berlabuh ke hati bidadari lain di langit sana. aku juga tak akan menuntutmu untuk setia di tengah beribu perbedaan yang memisahkan. aku hanya memintamu bahagia. denganku ataupun tanpaku.

kita memang dipisahkan oleh jarak jutaan tahun cahaya, tapi yang kuyakini, kita satu dalam cinta.

begitulah kisah mereka. kuharap semesta akan sedikit lebih berbaik hati pada mereka.
love it!

Rabu, 12 Juni 2013

malam ini hujan mengguyur.

malam ini hujan mengguyur dengan deras, menolongku menyamarkan isak yang telah lama ingin terlihat tapi bersi keras kupendam.

malam ini hujan mengguyur, menenangkan tangis yang telah menerobos benteng mentalku yang masih lemah.

malam ini hujan mengguyur, berusaha menenangkan batin yang masih penuh dengan gejolak problematika kehidupan mahasiswa.

malam ini hujan mengguyur, menemani raga dalam sepi sunyi senyapnya malam yang semakin larut.

malam ini hujan mengguyur, dan aku merenung.

tangisku pecah, ketika satu persatu potongan soal kehidupan muncul. menyayat hati, menggores batin, bahkan menjatuhkan nalar.

aku ingin menjadi seperti sang Gadis Jeruk, yang dengan segala ketegaran jiwa, berjuang melawan rindu untuk menggapai sukses. atau seperti Athena, berjalan tegap diatas halhal yang diyakininya benar tanpa peduli dengan anggapan orang sekitar.

aku ingin menyerah dan berhenti melawan. tunduk pada rasa yang tak tahu harus kusebut apa. aku ingin mengibarkan bendera putih dan terbaring mengikuti arus. tapi rasa takut selalu datang mengetok pintu batin.

malam ini hujan mengguyur, mencoba membantuku mengurai rasa penyebab tangis ini hadir.

malam ini hujan mengguyur, membekukan nalar dan menebarkan emosi hingga kesudut batin terdalam.

aku bukan bulan yang hanya terus diam dibalik kelamnya angkasa, walau terus dihantam oleh bendabenda galaksi lainnya.
aku mahluk sosial yang perlu mengerti juga dimengerti oleh semesta.

aku masih membutuhkan telinga untuk mendengar, hingga tak perlu menunggu hujan mengguyur untuk mengeluarkan tangis.

tuhan yang baik,
aku ingin menyerah saja, berdiam diri mengikuti arus takdir yang telah kau goreskan.
tuhan yang bijaksana,
tolong hadirkan penyelesaian, aku tak ingin selamanya jadi penghianat.
tuhan yang dermawan,
tolong berikan jiwaku, kekuatan yang lebih kuat dari karang yang selalu dihempas ombak.

malam ini hujan mengguyur, dan aku termenung.

Betapa Cepatnya Dunia Berubah.

Time flies.
people change.
live sucks.
and nobody cares.

begitu cepatnya waktu berjalan, bahkan setiap detiknya terbang meninggalkan jejak. sungguh hebat sang waktu, hanya dengan tetap berdetak setiap detiknya dia sanggup menghadirkan scene yang membolakbalikkan kehidupan manusia.

sebenarnya apa itu waktu? mengapa dengan hebatnya dia bisa merubah kehidupan personal individu. Einstein berkata, waktu adalah sejenis lintasan yang berada di dimensi keempat. yang artinya di dimensi keempat akan ada salinan tak terbatas dari seluruh alam semesta pada garis waktu yang tak terbatas pula.

kukira sudah bukan saatnya lagi bagiku untuk menyalahkan waktu.

aku hanya sedang tak tahu ingin menyalahkan siapa selain waktu yang jelasjelas mengambil peran dalam perubahan yang terjadi di kehidupanku.

saat kanakkanak dulu, semua terasa seringan kapas. dengan mudahnya semua masalah hanya diselesaikan dengan cara memutuskan tali pertemanan, mengubah status kawan menjadi lawan, dan keesokan harinya kembali berteman hanya karena persoalan ingin tetap bermain di sore hari. masalah yang lalu bahkan dianggap tak ada.

beranjak remaja kita diminta untuk mengerti kondisi alam semesta beserta isinya. termasuk mengerti tentang kondisi cuaca yang tak bersahabat, kondisi psikologis kucing hamil yang tak layak untuk diganggu, kondisi hati yang diamdiam menyimpan rasa untuk orang lain diluar sana, kondisi keuangan yang kadang mencekik hasrat belanja, kondisi orang tua yang berbeda pemikiran, hingga kondisi orang lain dalam lingkup sosial.

semakin tua, kita semakin dipaksa untuk menjadi dewasa. walau sejujurnya, sampai sekarang aku belum pernah mendapatkan indikator kedewasaan seperti apa.
siap tidak siap, aku harus jadi dewasa. semesta menuntut.

status mahasiswa, umur diatas 17 tahun lengkap dengan embel-embel KTP di dompet, bukubuku yang telah dibaca, lingkungan pergaulan, tontonan tivi zaman sekarang, diskusidiskusi yang telah diikuti, serta tanggung jawab yag dibebankan oleh pengetahuan seakan memaksa, menuntut bahkan menodong untuk aku menjadi dewasa di segala hal.

dunia berubah, kawan.
dan aku belum bisa mengimbangi perubahannya. aku tertinggal. ditinggal zaman.

dunia menjadi semakin kompleks, salahkah aku jika hanya berharap akan hidup yang sederhana?
selain waktu, perlukah ku salahkan pengetahuan yang kudapatkan??

melihat dunia yang berubah dengan cepatnya, kurasa aku belum siap. aku masih harus belajar pada alam. bagaimana seharusnya memilih prioritas, antara kawan, tanggung jawab juga keluarga.

ajari aku semesta, sebelum dunia berubah lebih cepat lagi :"(

Jumat, 24 Mei 2013

penerimaan tanpa syarat

minggu ini aku belajar tentang konsep penerimaan tanpa syarat. semesta memaksaku belajar lebih tepatnya. dunia mengajarkanku bahwa ada beberapa hal diluar sana yang hanya perlu diterima saja tanpa harus dimengerti.

aku belajar bagaimana memposisikan diri sebagai personal yang bisa meleburkan ego individu. tidak segampang yang terdengar, karena mengorbankan kebahagiaan menjadi salah satu indikatornya.

ketika kau sadari bahwa kebahagiaanmu bukan lagi menjadi yang terpenting di dunia ini, adalah saat-saat terbimbang dalam menentukan pilihan. melihat yang lain tertawa bahagia, atau kau memilih tertawa sendirian.

minggu ini aku mencoba memahami rasa. sebuah rasa yang tak ingin kupercayai tapi terus bertumbuh dengan lembut namun cukup untuk menghancurkan. entah apa namanya. tapi tetap tak ku mengerti seutuhnya. aku belajar menerima tanpa syarat.

mataku, senyumku, bahkan dalam setiap tarikan nafasku menyimpan rahasia. mereka menyimpan rahasia yang tak kuasa untuk ku ungkap. aku memilih memendam. berharap ada orang diluar sana yang bisa memecahkannya.

aku merasa seakan semesta memusuhiku, tapi aku belajar menerima tanpa syarat.
aku merasa seolah semua personal memusuhiku, tapi aku belajar menerima tanpa syarat.
aku merasa seperti berdiri sendiri di tengan jembatan rapuh tanpa pegangan di kanan kiri, tapi aku belajar menerima tanpa syarat.
aku dituntut untuk menjadi orang lain, itu pun ku terima tanpa syarat.

kini aku mempunyai topeng dengan seribu emosi, yang harus kugunakan bergantian. hingga aku tak lagi tau, yang mana wajahku sebenarnya.

minggu ini segalanya terasa berat. kedepannya pun akan bertambah berat. dan ku coba untuk menerima tanpa syarat.

Kamis, 23 Mei 2013

sang bocah di dunia para dewasa.

seorang bocah kecil polos tersesat di dunia orang dewasa yang penuh konspirasi sejarah. mungkin tersesat bukanlah diksi yang tepat, yang jelas sang bocah saat ini sedang terduduk merengkuh lutut sambil sesekali terisak. ghuenzee, nama sang bocah.

ingin sekali aku mengulurkan tangan, menerangi jalan setapak agar ghuenzee bisa pulang kembali ke rumahnya. tapi itu berarti aku memanjakan. dan dia tidak akan pernah dewasa. memang akulah yang memaksanya masuk ke dalam dunia mereka. anggap saja aku jahat.

belum cukup sebulan ghuenzee disana, belum juga terlihat tanda-tanda adaptasi yang berhasil. sebaliknya, dia dikucilkan dan kini menangis di pojok hutan terkelam. aku tak habis pikir, harusnya dia sudah dewasa sekarang. harusnya dia sudah bisa memahami soal-soal kehidupan.

selama sebulan ini dia telah bertemu dengan beberapa soal kehidupan. aku ingat sekali, soal kehidupan pertama datang saat dia baru saja ingin melintasi jembatan pilihan. soal itu bernama "hati atau hari?" kini dia disuruh memilih jembatan di sebelah kanan yang bentuknya lika-liku, penuh dengan harapan indah dan juga ekspektasi kebahagiaan. jembatan itu bernama 'jembatan hati'. tapi ujungnya tak terlihat, ditutupi kabut misteri. tak pasti masih adakah kelanjutannya, atau justru jurang dalam yang menunggu.

sedang di sebelah kirinya, juga ada sebuah jembatan, lurus, monoton, sesekali bergelombang, rapuh di beberapa bagian dan panjangnya keterlaluan, tapi terlihat daratan di ujung sana. terlihat kepastian menapak di sisi seberang. namanya 'jembatan hari'. beberapa bocah yang telah melaluinya, melakukan kesalahan dengan memilih sang hati, padahal jurang kelam menunggu di balik kabut.

sedang ghuenzee, lain dari yang sudah-sudah, dia memilih membuat perahu, agar bisa memetik harapan di 'jembatan hati' tapi juga tetap bisa berjaga-jaga jika nantinya ada jurang di ujungnya. anggap saja dia lulus pada soal kehidupan pertama.

tiga hari yang lalu, dia bertemu soal kehidupan lainnya, namanya 'komitmen'. sang komitmen telah menyekap beberapa bocah lainnya yang belum bisa menyelesaikan masalahnya, termasuk ghuenzee. para bocah disuruh untuk menyelesaikan masalah, ghuenzee yang datang terakhir hanya bisa bertanya kepada yang lainnya, apa sebenarnya masalah sang 'komitmen'. dia berniat membantu, menyumbangkan beberapa saran hasil pengalamannya.

namun, karena ghuenzee adalah bocah terkecil disana, dia tidak dipandang ada, diacuhkan, dikucilkan, ditinggal sendirian. setiap bertanya, tak ada yang menjawab, bahkan terkadang dia dihardik serta diusir dari kerumunan. setiap bertingkah, dia malah dianggap lancang dan dihujani tatapan sinis serta senyuman penuh ledekan.

aku tau, kini ghuenzee mulai capek bertanya dan bertingkah. dia kini merasa beda dunia. bagai bocah abad 20 yang hidup pada abad 21. dia tidak cocok di dunia orang dewasa, dunia penuh soal-soal kehidupan. berulang kali dia meminta kepadaku dikembalikan ke dunia para bocah. tapi aku menolak. ini tidak sesuai dengan skenario yang telah ku buat. ghuenzee harus tetap ada di sana, sampai dia benar-benar telah menjadi bagian dari dunia dewasa.

capek memohon kepadaku, sore tadi dia berjalan lemas menuju kerumunan yang belum juga selesai debat kusir. dia berlutut dan memohon yang disertai isak tangis.

"kumohon, beri aku pengetahuan biar secuil, cukup yang boleh kuketahui, selebihnya seikhlas kalian saja" katanya.

tetap tak ada yang berubah.