ceritakan padaku tentang kebencian?
dosakah ?
maka akan kututup telinga.
biarkan aku membenci.
aku benci pada pikiranku sendiri yang tak bisa ku kekang.
aku benci pada perasaanku sendiri yang tumbuh sangat liar.
aku benci pada lidahku yang takut bersuara.
aku benci pada senyumku yang berusaha menutupi mata sembabku.
aku benci menjadi bodoh karenanya.
aku membenci.
dosakah?
Sabtu, 24 Agustus 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Terlalu Lemah
aku mencoba mengeja kata.
merapalkan doa dan mantra.
menolak segala bentuk pinta.
tapi terlalu lemah..
terlalu lemah...
aku menyuarakan orasi penuh semangat.
membuat suara-suara provokasi.
mendorong sisa-sisa kekuatan.
masih terlalu lemah..
terlalu lemah..
aku membaca seribu buku.
menulis ribuan halaman.
mendengar jutaan pendapat.
tetap saja terlalu lemah..
terlalu lemah..
masih tentang aku yang terlalu lemah.
semoga tangis ini bukan karena menangisi kebodohan senja.
yang selalu menghadirkan harapan.
anggap saja sebagai ucapan terima kasih yang sedikit berbeda.
karena untuk berpisah secara perlahan.
aku masih terlalu lemah. terlalu lemah.
merapalkan doa dan mantra.
menolak segala bentuk pinta.
tapi terlalu lemah..
terlalu lemah...
aku menyuarakan orasi penuh semangat.
membuat suara-suara provokasi.
mendorong sisa-sisa kekuatan.
masih terlalu lemah..
terlalu lemah..
aku membaca seribu buku.
menulis ribuan halaman.
mendengar jutaan pendapat.
tetap saja terlalu lemah..
terlalu lemah..
masih tentang aku yang terlalu lemah.
semoga tangis ini bukan karena menangisi kebodohan senja.
yang selalu menghadirkan harapan.
anggap saja sebagai ucapan terima kasih yang sedikit berbeda.
karena untuk berpisah secara perlahan.
aku masih terlalu lemah. terlalu lemah.
Rabu, 03 Juli 2013
Ini Puisi, bukan cerita fiksi.
Ketika "cinta" Tiba
Meski belum bertemu Aku telah mengenal "cinta" sejak kelas 1 SMP.
Dari kotak-kotak multimedia kecil di Rumah yang kalian sebut TV
Dari cerita-cerita romantis novel-novel teenlit
Dari gosip-gosip kecil-kecilan sepupu di waktu tidur.
Aku telah tau seperti apa itu "cinta" walau belum merasakannya.
"cinta" mengenakan kemeja denim dengan topi berbahan sama.
"cinta" mengetahui semua jenis buku yang telah ku baca.
"cinta" mengenal semua nama-nama di pohon keluarga.
Ayah.
Ibu.
Nenek, bahkan sepupu jutaan kali.
"cinta" mengendarai unicorn putih yang akan terbang saat aku membutuhkan.
Begitulah Aku mengenal "cinta" di kelas 1 SMP. Jika saja Aku bisa menemukannya.
Tapi, ketika "cinta" akhirnya tiba, dia bertato dengan bau alkohol di sekeliling tubuhnya.
Dia mengenakan jeans robek-robek yang sepertinya belum dicuci dari sebulan yang lalu.
Tak pernah baca buku dan tidak jelas siapa ayah dan ibunya.
"cinta" adalah alasan satu-satunya aku harus membohongi orang tuaku.
Izin ke Rumah Siska padahal mengendap-endap ke gang belakang rumah, membantunya sadar dari mabuk beratnya.
"cinta" begitu menakutkan bagi orang-orang sekitar
Tapi bagiku, aku tak pernah kehilangan humor jika berada disekelilingnya.
"cinta" selalu menungguku pulang dari sekolah, untuk memastikan tak ada preman yang berani menggangguku.
Waktu berlari dan "cinta" berubah.
"cinta" memuai seperti udara.
"cinta" mengendur seperti kabel listrik di malam hari.
Perlahan "cinta" menghilang.
"cinta" tak berkabar selama bertahun-tahun
Dan ketika "cinta" datang kembali, aku bahkan tidak mengenalinya.
"cinta" datang dengan suara merdu yang baru
"cinta" datang dengan mimpi-mimpi manis yang baru
Dengan tahi lalat yang baru
Dengan lesung pipi di senyum yang baru
"cinta" datang dengan cinta yang baru
Sekarang ada panggilan kesayangan baru.
Lagu pengantar tidur baru.
Juga buku-buku favorit baru.
Kami menemukan lelucon yang membuat kami tertawa bersama.
Menemukan lagu yang membuat kami bernyanyi bersama.
Menemukan topik yang membuat kami larut dalam diskusi bersama.
"cinta" selalu mengatakan 'you're beautiful'
Selalu dan setiap saat.
Ketika aku sedang dalam emosi yang memuncak
'you're beautiful'
Ketika aku sedang dalam isak yang mengharukan
'you're beautiful'
Bahkan ketika aku telah bosan mendengar
'you're beautiful'
Ketika aku telah menolak untuk percaya padanya lagi, tetap saja...
'you're beautiful'
Ketika tidak ada lagi orang yang akan mengatakan
'you're beautiful'
Tapi ketika aku ingin mendengarnya, "cinta" lupa mengatakan..
'you're beautiful'
"cinta" juga membuatku menangis.
Pada setiap minggu yang tak berkabar
Pada setiap malam sunyi yang sepi
"cinta" tidak akan pernah menjadi seperti yang kuharapkan ketika duduk di bangku SMP dulu
Mungkin, "cinta" di Arab sedang tidur pulas
Sedang aku, menyantap makan siang.
Mungkin "cinta" berada di dua tempat yang berbeda, terjebak perbedaan waktu.
Mungkin "cinta" tidak siap untukku
Atau aku yang tidak siap untuk "cinta"
Mungkin "cinta" bukan datang seiring pernikahan
Mungkin "cinta" datangnya setelah perceraian
Mungkin "cinta" bisa tinggal, dan mungkin juga tidak.
"cinta" akan datang di saat seharusnya dia datang, dan pergi disaat dia harus pergi.
Ketika "cinta" datang, bukalah pintu lebar-lebar
Katakan "selamat datang dan buat diri anda senyaman mungkin"
Ketika "cinta" harus pergi, persilahkan dia lewat pintu belakang
matikan lampu dan resapi kesunyiannya, sambil berbisik
"terima kasih. terima kasih telah bersedia mampir"
*terinspirasi dari karya salah satu penyair luar negeri*
Minggu, 16 Juni 2013
Berjuang Dalam Perbedaan
terkadang perbedaan memang bisa sangat menyulitkan. bahkan bisa memisahkan.
Leony, teman yang telah kuanggap sebagai saudara sendiri, menghubungiku kemarin malam. lewat telepon seluler dia bercerita tentang kisahnya. kisah yang tak pernah kutau pernah dialaminya karena jarak dan kesibukan yang memisahkan kami.
ini kisah tentang perbedaan. lagi-lagi tentang perbedaan.
kisahnya bermula sejak 6 bulan yang lalu. dia berkenalan dengan seorang Pria. Pria yang mengenalkan dia tentang arti cinta. pertemuannya cukup sederhana, hanya karena sebuah buku, mereka pun saling mengenal nama. hobby membacanya ternyata juga dimiliki oleh Firman, sang lelaki yang mengenalkan cinta padanya.
tanpa disadari oleh mereka berdua, diskusi-diskusi hangat tentang buku yang sedang mereka baca mengalirkan suasana hatinya pada kondisi yang mendekatkan. hingga secara kasat mata, mereka telah saling memberi hati. memberi kepercayaan. memberi cinta. cinta memang sesederhana itu, Leony jatuh pada cinta, dan Firman menangkapnya.
Firman adalah mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, mengambil juruan Hukum karena idealismenya tentang keadilan. dan tentu saja itu menjadi poin plus dan menambah kekaguman Leony padanya. semakin lama mereka semakin tenggelam dalam samudra cinta. sedangkan Leony adalah mahasiswi semester 5 universitas ternama di makassar.
mereka adalah konsep pasangan ideal. saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan. tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bersama. tapi bukankah didunia ini tidak ada yang sempurna? begitu juga dengan hubungan mereka. konsep pasangan ideal yang dilekatkan oleh teman-teman mereka terhadap hubungan kedua insan ini terhalang satu perbedaan besar. Agama. Keyakinan. Kepercayaan.
Leony adalah seorang katolik yang taat. tumbuh di lingkungan keluarga yang religius. oma, opa, dan beberapa omnya mengabdikan dirinya menjadi pendeta di gereja di kampung halamannya. sedangkan firman, anak laki-laki pertama dikeluarganya, yang diharapkan akan memberi contoh pada adik-adiknya. menghabiskan masa SMP dan SMA nya disalah satu pesantren terkenal di daerah Jawa sana. sudah pasti adalah seorang muslim yang taat.
entah harus menyalahkan siapa? dua anak manusia bertemu, dengan polosnya menyerahkan hati tapi terhalang sebuah perbedaan besar. haruskah mereka menyalahkan semesta?
disela-sela ceritanya, aku hanya bisa berkata "sabar" sambil berusaha menenangkan isak tangisnya.
dalam hati aku heran pada mereka berdua. aku sempat bertanya "kalian sadarkan tentang perbedaan besar ini? kenapa masih diteruskan?"
Leony semakin dalam jatuh pada kesedihannya, dia terdiam lama sekali, menahan tangis yang ingin keluar lebih deras. sepertinya aku telah salah menanyakan pertanyaan.
beberapa saat kemudian, ia menjawab. pada awalnya mereka berusaha menerima, menormalkan segala sesuatunya. bertoleransi terhadap satu sama lainnya. berharap akan ada jalan keluar dengan sendirinya. tak jarang perbedaan diantara mereka dijadikan bahan candaan di malam hari menjelang tidur. tapi keadaan malah semakin memburuk.
manusia memang egois dalam hal cinta. mereka memutihkan segala macam perbedaan hanya karena keinginan bersama yang lebih kuat. inikah konsep "cinta itu buta"?
mereka berusaha mencari pembenaran atas hubungan mereka, berusaha mencari tokoh-tokoh senasib yang sukses hingga ke jenjang pernikahan. tapi sejarah berkata lain. menurutku mereka sangat romantis, memilih untuk tetap bersama walau perbedaan menghadang.
di depan masing-masing mereka saling menertawakan perbedaan, tapi dibelakang panggung, mereka saling mendoakan. berdoa pada tuhan dengan nama yang berbeda.
setiap minggu, Leony masih sering ke gereja, melipat tangan dengan kalung salib yang melingkar pada lehernya. sedangkan Firman ia rajin melaksanakan sholat malam, bersujud memohon ampun, dan meminta solusi dari tuhan. mereka saling memperjuangkan cinta dalam bahasa yang berbeda. mereka saling mendoakan dengan cara yang berbeda. Leony dengan Salib ditangannya, sementara Firman dengan tasbih digenggamannya.
ketika Leony telah selesai bercerita, aku tak tahu harus berkata apa. tak ada solusi yang bisa kuberikan. aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. aku tak berani menyarankan agar mereka berpisah saja. karena jika melihat dari latar belakang keluarga, sangat mustahil menyuruh salah satu dari mereka untuk berpindah keyakinan. mereka sama-sama taat juga sama-sama saling mencintai.
siapakah sebenarnya yang menciptakan perbedaan ini? tuhan kah? semesta kah? siapa yang patut disalahkan?
hingga kini mereka masih menyimpan tanya besar di benak masing-masing, apakah Cinta dan Keyakinan tak bisa di satukan?
Sabtu, 15 Juni 2013
Mungkin karena jodoh.
Mungkin.
Mungkin pipiku sengaja dibuat temben, karena jodohku suka mencubitnya.
Mungkin hidungku sengaja tak dibuat mancung, karena jodohku suka menariknya.
Mungkin kekanak-kanakanku sengaja susah untuk dihilangkan, karena jodohku jatuh cinta padanya.
Mungkin namaku sengaja dibuat sesimpel ini, agar jodohku nyaman menyebutnya dalam setiap doa-doanya.
Mungkin. Mungkin.
Mungkin bibirku sengaja dibuat tipis, karena jodohku nyaman menciumnya.
Mungkin badanku sengaja tak dibuat sekurus mungkin, agar aku dan jodohku nyaman di dalam pelukan.
Mungkin jerawat dan warna kulitku sengaja dibuat seperti ini, agar aku sadar jodohku menerimaku apa adanya.
Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Tuhan menciptakanku sebagaimana apaadanya diriku, tidak sempurna dengan banyak kekurangan, agar aku sadar, bahwa jauh di depan sana, di masa depan kelak, seseorang yang sama tak sempurnanya, juga dengan banyak kekurangan, menantiku. seseorang yang denganku akan saling melengkapi, menutupi satu sama lain. seseorang yag nantinya kusebut "jodoh".
Mungkin pipiku sengaja dibuat temben, karena jodohku suka mencubitnya.
Mungkin hidungku sengaja tak dibuat mancung, karena jodohku suka menariknya.
Mungkin kekanak-kanakanku sengaja susah untuk dihilangkan, karena jodohku jatuh cinta padanya.
Mungkin namaku sengaja dibuat sesimpel ini, agar jodohku nyaman menyebutnya dalam setiap doa-doanya.
Mungkin. Mungkin.
Mungkin bibirku sengaja dibuat tipis, karena jodohku nyaman menciumnya.
Mungkin badanku sengaja tak dibuat sekurus mungkin, agar aku dan jodohku nyaman di dalam pelukan.
Mungkin jerawat dan warna kulitku sengaja dibuat seperti ini, agar aku sadar jodohku menerimaku apa adanya.
Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Tuhan menciptakanku sebagaimana apaadanya diriku, tidak sempurna dengan banyak kekurangan, agar aku sadar, bahwa jauh di depan sana, di masa depan kelak, seseorang yang sama tak sempurnanya, juga dengan banyak kekurangan, menantiku. seseorang yang denganku akan saling melengkapi, menutupi satu sama lain. seseorang yag nantinya kusebut "jodoh".
wanita impian
kali ini ingin membahas sedikit tentang wanita impian.
saya hanya ingin sedikit berpendapat secara bebas, beropini semerdeka mungkin.
sejak emansipasi wanita dielu-elukan, semakin banyak wanita ingin disamaratakan haknya dengan pria. termasuk dalam lingkungan keprofesian. seakan tak ada lagi pembeda, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pria juga telah dijamah oleh tangan-tangan perkasa wanita. semisal, tukang ojek, sopir bus, karyawan kantoran, mandor, manajer, direktur, hingga presiden sekalipun.
berbagai faktor menjadi penyebab wanita memilih untuk bekarir. entah itu karena tingkat pendidikan yang tinggi sehingga sayang jika hanya menjadi ibu rumah tangga, dorongan dari orang tua yang menuntut untuk bekerja, penghasilan suami yang belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga, atau dengan bekerja wanita merasa lebih dihargai keberadaannya, bekerja juga menjadi ajang aktualisasi diri wanita, mampu meningkatkan wawasan yang akan berdampak pada peningkatan pola asuh anak nantinya, hingga menunjang kebutuhan finansial keluarga.
tapi disisi lain, dengan memilih menjadi wanita karir, akan ada harga yang harus dibayar sebagai bentuk pengorbanan. sebut saja pengorbanan waktu luang. dengan memilih menjadi wanita karir, secara otomatis waktu luang untuk keluarga akan semakin berkurang karena harus dibagi dengan pekerjaan kantor. urusan rumah tangga akan menjadi terbengkalai jika wanita karir lebih fokus dengan karirnya sendiri.
secara pribadi, saya agak tidak sepakat dengan konsep wanita kantoran. ada baiknya jika wanita sebagai selayaknya wanita tetap mengurusi rumah tangga tanpa harus ikut dipusingkan dengan masalah kantoran.
bukankah, menurut teori struktural fungsionalis, setiap orang mempunyai peran dan fungsinya masing-masing, dan jika ada yang melenceng dari fungsinya, maka akan terjadi konflik.
masih secara pribadi, entah saya masih kurang kritis atau tidak, saya menganggap sudah semestinya wanita yang telah menikah bertugas mengurusi keluarganya, sedangkan sang suami lah yang mencari nafkah. sedangkan sang anak bertugas untuk belajar dan mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan sebelum menggantikan posisi ayah dan ibu mereka.
saya menganggap menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan mulia yang sangat susah untuk dikerjakan. bayangkan jika seorang ibu tidak terlalu memperhatikan kondisi keluarganya, terutama anak, karena tuntutan pekerjaan. sang anak akan kekurangan kasih sayang dan akan berdampak pada kondisi psikologinya. ujung-ujungnya sang anak bisa saja memilih tempat lain untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari rumah.
apalagi di dunia yang telah memasuki zaman globalisasi. apapun yang diinginkan akan dengan sangat mudah didapatkan, terlebih tanpa pengawasan dari orang tua.
lagi-lagi secara pribadi, saya menyarankan untuk wanita-wanita lajang diluar sana, ada baiknya kita berkarir sebagai ibu rumah tangga saja. bagi saya cita-cita menjadi ibu yang baik lebih sulit dibanding membangun istana putri duyung di palung laut terdalam. kenapa sulit ? karena menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya. semua berasal dari naluri. menjadi ibu yang baik dibutuhkan pengakuan dari seluruh keluarga. suami juga anak. bayangkan jika salah satu diantaranya terlantar?
bukankah indah rasanya jika, seorang wanita memfokuskan diri pada keluarganya. sarapan enak akan selalu tersedia setiap pagi dimeja, rumah akan selalu bersih, anak-anak akan selalu punya teman bercerita dan berbagi keluh kesah, setiap malam ruang keluarga akan hangat dengan perbincangan-perbincangan antar keluarga. bukannya sibuk dengan urusan masing pekerjaan masing-masing.
saya adalah seorang pemimpi. saya masih bemimpi suatu hari nanti akan melanjutkan pendidikan di negeri sakura sana. saya juga masih memimpikan akan meluncurkan sebuah buku yang murni hasil tulisan saya. tapi impian terbesar saya adalah menjadi seorang ibu yang baik. yang menuntut ilmu setinggi-tingginya tapi tidak sungkan untuk menunduk demi mengikat tali sepatu anak. wanita yang mampu bersosialisasi diluar tapi tetap tidak lupa untuk menyanyikan lagu untuk menidurkan sang anak. wanita yang suatu hari nanti, anaknya akan menulis blog seperti ini, dan menceritakan betapa hebat ibunya. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
