RSS Feed
Tidak semua yang ku tulis adalah aku, dan tak semua yang kau baca adalah kamu.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kenangan tentang Kalian

seberapa hebat kekuatan kenangan ?
dapatkah ia merambatkan haru ke pelupuk mataku ?
atau
menanamkan api yang menjalar pada hatiku ?

seberapa hebat kekuatan kenangan?
akankah ia selalu hadir dalam setiap rapal doamu ?
atau
menghilang seiring jejak tapak langkahmu ?

seberapa hebat kekuatan kenangan ?
tergeruskah ia oleh waktu ?
atau
 justru bertahan walau diterpa badai semesta ?

ingatan tak pernah peduli.
kenangan tak pernah memaksa.
tapi mereka kuat, terutama yang tentang kalian.

Seluruh Hidupku adalah Penjara

Seluruh Hidupku adalah Penjara

Bebas. Adakah ?
Tunjukkan padaku yang mereka sebut kebebasan !
tak pernah rasanya ku cicipi kebebasan.
di setiap sela kata, ada rasa takut yang terlalu kuat.
tapi, apalagi yang bisa kulakukan ?
semuanya sudah tergariskan.
hidup adalah penindasan.

inspired by Pasung Jiwa

membenci.

ceritakan padaku tentang kebencian?
dosakah ?
maka akan kututup telinga.
biarkan aku membenci.

aku benci pada pikiranku sendiri yang tak bisa ku kekang.
aku benci pada perasaanku sendiri yang tumbuh sangat liar.
aku benci pada lidahku yang takut bersuara.
aku benci pada senyumku yang berusaha menutupi mata sembabku.
aku benci menjadi bodoh karenanya.
aku membenci.

dosakah?

Kamis, 22 Agustus 2013

Terlalu Lemah

aku mencoba mengeja kata.
merapalkan doa dan mantra.
menolak segala bentuk pinta.
tapi terlalu lemah..
terlalu lemah...

aku menyuarakan orasi penuh semangat.
membuat suara-suara provokasi.
mendorong sisa-sisa kekuatan.
masih terlalu lemah..
terlalu lemah..

aku membaca seribu buku.
menulis ribuan halaman.
mendengar jutaan pendapat.
tetap saja terlalu lemah..
terlalu lemah..

masih tentang aku yang terlalu lemah.
semoga tangis ini bukan karena menangisi kebodohan senja.
yang selalu menghadirkan harapan.
anggap saja sebagai ucapan terima kasih yang sedikit berbeda.
karena untuk berpisah secara perlahan.
aku masih terlalu lemah. terlalu lemah.

Rabu, 03 Juli 2013

Ini Puisi, bukan cerita fiksi.

Ketika "cinta" Tiba

Meski belum bertemu Aku telah mengenal "cinta" sejak kelas 1 SMP.
Dari kotak-kotak multimedia kecil di Rumah yang kalian sebut TV
Dari cerita-cerita romantis novel-novel teenlit
Dari gosip-gosip kecil-kecilan sepupu di waktu tidur.
Aku telah tau seperti apa itu "cinta" walau belum merasakannya.
"cinta" mengenakan kemeja denim dengan topi berbahan sama.
"cinta" mengetahui semua jenis buku yang telah ku baca.
"cinta" mengenal semua nama-nama di pohon keluarga.
Ayah.
Ibu.
Nenek, bahkan sepupu jutaan kali.
"cinta" mengendarai unicorn putih yang akan terbang saat aku membutuhkan.
Begitulah Aku mengenal "cinta" di kelas 1 SMP. Jika saja Aku bisa menemukannya.
Tapi, ketika "cinta" akhirnya tiba, dia bertato dengan bau alkohol di sekeliling tubuhnya.
Dia mengenakan jeans robek-robek yang sepertinya belum dicuci dari sebulan yang lalu.
Tak pernah baca buku dan tidak jelas siapa ayah dan ibunya.
"cinta" adalah alasan satu-satunya aku harus membohongi orang tuaku.
Izin ke Rumah Siska padahal mengendap-endap ke gang belakang rumah, membantunya sadar dari mabuk beratnya.
"cinta" begitu menakutkan bagi orang-orang sekitar
Tapi bagiku, aku tak pernah kehilangan humor jika berada disekelilingnya.
"cinta" selalu menungguku pulang dari sekolah, untuk memastikan tak ada preman yang berani menggangguku.

Waktu berlari dan "cinta" berubah.
"cinta" memuai seperti udara.
"cinta" mengendur seperti kabel listrik di malam hari.
Perlahan "cinta" menghilang.
"cinta" tak berkabar selama bertahun-tahun
Dan ketika "cinta" datang kembali, aku bahkan tidak mengenalinya.
"cinta" datang dengan suara merdu yang baru
"cinta" datang dengan mimpi-mimpi manis yang baru
Dengan tahi lalat yang baru
Dengan lesung pipi di senyum yang baru
"cinta" datang dengan cinta yang baru

Sekarang ada panggilan kesayangan baru.
Lagu pengantar tidur baru.
Juga buku-buku favorit baru.

Kami menemukan lelucon yang membuat kami tertawa bersama.
Menemukan lagu yang membuat kami bernyanyi bersama.
Menemukan topik yang membuat kami larut dalam diskusi bersama.

"cinta" selalu mengatakan 'you're beautiful'
Selalu dan setiap saat.
Ketika aku sedang dalam emosi yang memuncak
'you're beautiful'
Ketika aku sedang dalam isak yang mengharukan
'you're beautiful'
Bahkan ketika aku telah bosan mendengar
'you're beautiful'
Ketika aku telah menolak untuk percaya padanya lagi, tetap saja...
'you're beautiful'
Ketika tidak ada lagi orang yang akan mengatakan
'you're beautiful'
Tapi ketika aku ingin mendengarnya, "cinta" lupa mengatakan..
'you're beautiful'

"cinta" juga membuatku menangis.
Pada setiap minggu yang tak berkabar
Pada setiap malam sunyi yang sepi

"cinta" tidak akan pernah menjadi seperti yang kuharapkan ketika duduk di bangku SMP dulu
Mungkin, "cinta" di Arab sedang tidur pulas
Sedang aku, menyantap makan siang.
Mungkin "cinta" berada di dua tempat yang berbeda, terjebak perbedaan waktu.
Mungkin "cinta" tidak siap untukku
Atau aku yang tidak siap untuk "cinta"
Mungkin "cinta" bukan datang seiring pernikahan
Mungkin "cinta" datangnya setelah perceraian
Mungkin "cinta" bisa tinggal, dan mungkin juga tidak.

"cinta" akan datang di saat seharusnya dia datang, dan pergi disaat dia harus pergi.
Ketika "cinta" datang, bukalah pintu lebar-lebar
Katakan "selamat datang dan buat diri anda senyaman mungkin"
Ketika "cinta" harus pergi, persilahkan dia lewat pintu belakang
matikan lampu dan resapi kesunyiannya, sambil berbisik
"terima kasih. terima kasih telah bersedia mampir"

*terinspirasi dari karya salah satu penyair luar negeri*

Minggu, 16 Juni 2013

Berjuang Dalam Perbedaan

terkadang perbedaan memang bisa sangat menyulitkan. bahkan bisa memisahkan.

Leony, teman yang telah kuanggap sebagai saudara sendiri, menghubungiku kemarin malam. lewat telepon seluler dia bercerita tentang kisahnya. kisah yang tak pernah kutau pernah dialaminya karena jarak dan kesibukan yang memisahkan kami.

ini kisah tentang perbedaan. lagi-lagi tentang perbedaan.

kisahnya bermula sejak 6 bulan yang lalu. dia berkenalan dengan seorang Pria. Pria yang mengenalkan dia tentang arti cinta. pertemuannya cukup sederhana, hanya karena sebuah buku, mereka pun saling mengenal nama. hobby membacanya ternyata juga dimiliki oleh Firman, sang lelaki yang mengenalkan cinta padanya.

tanpa disadari oleh mereka berdua, diskusi-diskusi hangat tentang buku yang sedang mereka baca mengalirkan suasana hatinya pada kondisi yang mendekatkan. hingga secara kasat mata, mereka telah saling memberi hati. memberi kepercayaan. memberi cinta. cinta memang sesederhana itu, Leony jatuh pada cinta, dan Firman menangkapnya.

Firman adalah mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, mengambil juruan Hukum karena idealismenya tentang keadilan. dan tentu saja itu menjadi poin plus dan menambah kekaguman Leony padanya. semakin lama mereka semakin tenggelam dalam samudra cinta. sedangkan Leony adalah mahasiswi semester 5 universitas ternama di makassar.

mereka adalah konsep pasangan ideal. saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan. tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bersama. tapi bukankah didunia ini tidak ada yang sempurna? begitu juga dengan hubungan mereka. konsep pasangan ideal yang dilekatkan oleh teman-teman mereka terhadap hubungan kedua insan ini terhalang satu perbedaan besar. Agama. Keyakinan. Kepercayaan.

Leony adalah seorang katolik yang taat. tumbuh di lingkungan keluarga yang religius. oma, opa, dan beberapa omnya mengabdikan dirinya menjadi pendeta di gereja di kampung halamannya. sedangkan firman, anak laki-laki pertama dikeluarganya, yang diharapkan akan memberi contoh pada adik-adiknya. menghabiskan masa SMP dan SMA nya disalah satu pesantren terkenal di daerah Jawa sana. sudah pasti adalah seorang muslim yang taat.

entah harus menyalahkan siapa? dua anak manusia bertemu, dengan polosnya menyerahkan hati tapi terhalang sebuah perbedaan besar. haruskah mereka menyalahkan semesta?

disela-sela ceritanya, aku hanya bisa berkata "sabar" sambil berusaha menenangkan isak tangisnya.

dalam hati aku heran pada mereka berdua. aku sempat bertanya "kalian sadarkan tentang perbedaan besar ini? kenapa masih diteruskan?"

Leony semakin dalam jatuh pada kesedihannya, dia terdiam lama sekali, menahan tangis yang ingin keluar lebih deras. sepertinya aku telah salah menanyakan pertanyaan.

beberapa saat kemudian, ia menjawab. pada awalnya mereka berusaha menerima, menormalkan segala sesuatunya. bertoleransi terhadap satu sama lainnya. berharap akan ada jalan keluar dengan sendirinya. tak jarang perbedaan diantara mereka dijadikan bahan candaan di malam hari menjelang tidur. tapi keadaan malah semakin memburuk.

manusia memang egois dalam hal cinta. mereka memutihkan segala macam perbedaan hanya karena keinginan bersama yang lebih kuat. inikah konsep "cinta itu buta"?

mereka berusaha mencari pembenaran atas hubungan mereka, berusaha mencari tokoh-tokoh senasib yang sukses hingga ke jenjang pernikahan. tapi sejarah berkata lain. menurutku mereka sangat romantis, memilih untuk tetap bersama walau perbedaan menghadang.

di depan masing-masing mereka saling menertawakan perbedaan, tapi dibelakang panggung, mereka saling mendoakan. berdoa pada tuhan dengan nama yang berbeda.
setiap minggu, Leony masih sering ke gereja, melipat tangan dengan kalung salib yang melingkar pada lehernya. sedangkan Firman ia rajin melaksanakan sholat malam, bersujud memohon ampun, dan meminta solusi dari tuhan. mereka saling memperjuangkan cinta dalam bahasa yang berbeda. mereka saling mendoakan dengan cara yang berbeda. Leony dengan Salib ditangannya, sementara Firman dengan tasbih digenggamannya.

ketika Leony telah selesai bercerita, aku tak tahu harus berkata apa. tak ada solusi yang bisa kuberikan. aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. aku tak berani menyarankan agar mereka berpisah saja. karena jika melihat dari latar belakang keluarga, sangat mustahil menyuruh salah satu dari mereka untuk berpindah keyakinan. mereka sama-sama taat juga sama-sama saling mencintai.

siapakah sebenarnya yang menciptakan perbedaan ini? tuhan kah? semesta kah? siapa yang patut disalahkan?

hingga kini mereka masih menyimpan tanya besar di benak masing-masing, apakah Cinta dan Keyakinan tak bisa di satukan?