Sabtu, 01 Februari 2014
Hari #2: Kepada Objek Rindu
Jumat, 31 Januari 2014
Hari #1 : sepucuk surat untuk hati di musim semi.
Selamat menunggu senja, Hati.
Aku tahu, kamu pasti heran mendapatkan surat dariku. Kita memang lebih terbiasa berdialektika langsung. Tapi kali ini aku memilih perantara surat. Sengaja, supaya kamu bisa dengan bijak menafsirkan setiap kata-kata yang aku tuliskan. Karena selama kita berdiskusi, biasanya kamu selalu mengintervensi setiap argumenku, tanpa benar-benar mencernanya dengan seksama. Kamu cenderung tak mau mendengar. Jadi kali ini bacalah surat ini baik-baik.
Aku tahu ada perjanjian diantara kita sebelumnya. Kamu punya porsi yang lebih besar dalam mengendalikan pemilik tubuh ini. Kita telah sepakat, pembagiannya 60:40. Tapi akhir-akhir ini aku seakan-akan tak punya andil sama sekali dalam pengambilan keputusan. Kamu melupakan hakku. Aku hanya hadir saat kamu telah sakit. Biar kutegaskan, aku bukan suster! Kalau kamu juga tidak memberikan hakku sesuai perjanjian, aku akan menuntut dilakukan peninjauan kembali. Aku mau perjanjian kita diubah. Itu yang pertama.
Yang kedua, tidakkah kau sadar, kamu kini terlalu mudah melayang. Harusnya kamu mendengarkan nasehatku. Jangan terlalu sering memakan harapan-harapan itu. Kamu kan susah membedakan mana yang palsu dan mana yang asli. Kamu harus lebih jeli. Bukannya aku iri. Aku senang kalau melihatmu melayang dengan wajah berseri-seri. Tapi seringkali kamu jatuh pada hati yang setajam duri, atau kalau tidak kamu malah terjun bebas ke tanah. Karena harapan yang terlalu banyak biasanya efek sampingnya tak enak. Dia menciptakan fatamorgana. Kamu seakan melihat ada tangan yang akan menangkapmu dan memelukmu erat. Padahal itu hanya ilusi semata. Sekali-kali kau harus minum obat pengalaman. Kadang rasa pahitnya bisa membuatmu lebih dewasa.
Yang ketiga, bisakah kamu berhenti memelihara burung-burung pelatuk itu? Sejak kamu memelihara burung pelatuk, aku dan pemilik tubuh ini jadi susah tidur. Aku butuh ketenangan untuk mengelola berbagai informasi serta menganalisis berbagai realitas kekinian. Tapi bagaimana aku bisa tenang, kalau setiap kali 'dia' mengirimkan sms bernada mesra, atau mengelus-elus kepala pemilik tubuh ini, atau setiap kali kenangan-kenangan indah dengannya datang bersama rintik hujan, burung-burung pelatuk itu akan beribu-ribu kali mematuk lebih cepat seakan tak pernah lelah. Iramanya memang menyenangkan. Tapi aku juga butuh ketenangan.
Atau jangan-jangan burung-burung pelatuk itu yang selama ini terbang dan membawamu melayang-layang. Kalau benar begitu, kau benar-benar harus segera melepaskan mereka secepatnya.
Hmm.. mungkin sampai disini dulu suratku. Sebenarnya aku tak mengharapkan balasan. Aku hanya menunggu tindakan yang akan kau ambil. Sekali lagi, pertimbangkanlah dengan seksama semua yang telah ku paparkan diatas.
NB: selamat menunggu senja darinya. Semoga cahaya cantiknya tidak akan menyilaukanmu sampai membuat matamu buta.
Tertanda
Nalar.
Jumat, 24 Januari 2014
Definisi Rindu
Rindu itu mesin waktu. membawa aku kembali menyusuri kenangan-kenangan indah. meski terkadang berakhir dengan air mata.
Rindu itu seperti pisau. perlahan mengiris sedikit-demi sedikit, hingga tak sadar hatiku kian menipis.
Rindu itu perkaraku dengan waktu, juga jarak. disaat-saat kau menghilang dari pandanganku. walau hanya sedetik. walau hanya sehasta.
Rindu itu nafasku yang habis. berharap disambung lagi dengan kedatanganmu.
Rindu itu jeda yang memisahkan kata. menjadikan kita lebih bermakna.
Rindu itu doa. setiap malam kurapalkan. agaknya sedetik pertemuan dapat dikabulkan Tuhan.
Cinta Bukannya Tak Pernah Tepat Waktu
Kamis, 16 Januari 2014
Singa dan Zebra

Rabu, 15 Januari 2014
Membujuk Seorang Ayu
Me: Sudahlah, kamu menghilang saja terus, tak usah ingat aku. yang bodoh memang aku. masih setia menunggu kedatangan kabarmu setelah empat hari tiga malam yang bisu.
You: Ayu, dengarkan aku dulu!
Me: Apa lagi alasanmu? kepalamu kejedot banyangan wanita lain, sampai kau amnesia. lupa kalau ada aku yang menunggu kabarmu?
You: Ayu, jangan kekanak-kanakkan seperti ini, kamu tau aku sedang sibuk.
Me: iya aku memang masih anak-anak, hingga kesabaranku menunggu tak lagi bernilai dimatamu. anak-anak cukup diberikan harapan, bukan begitu?
You: kali ini kau sudah berlebihan Ayu, aku hanya tak menghubungimu. bukan tidak mengingatmu sama sekali. aku bisa jelaskan.
Me: dongeng apalagi yang ingin kau umbar? mitos apalagi yang harus kudengar? atau kau berpikir dengan tidak memberi kabar, kau akan menjadi legenda. sudahlah, kamu sibuk kan? aku juga!
You: Terserah kamu saja! kuharap kau tak akan pernah menyesal dengan keputusanmu itu.
Me: entahlah, tapi telingaku seperti menangkap ancaman. tak usah bawa-bawa pilihan, hanya karena kau menganggapku pilihan kesekian.
You: berpikirlah sejenak dengan baik, sebelum kau melontarkan kata yang bisa saja melukaiku.
Me: kata-kataku mungkin saja akan melukaimu, tapi ketiadaan kabarmu sudah menggoreskan luka dengan sangat jelas di sudut hatiku.
You: kamu salah Ayu, kau kira aku juga tidak terluka?
Me: salah katamu? salah apa? salah satu wanita yang perasaannya tidak kau tanggapi?
You: jadi perasaanmu yang membuncah itu telah mengalahkan logikamu sehingga aku dan permintaan maafku tak lagi kau indahkan?
Me: lebih dari itu. kau lupa menambahkan variabel rindu dan khawatir di dalamnya.
You: hmm.. kali ini aku memang salah. maafkan aku yah?
Me: aku tetap bisa merindukanmu tanpa harus memaafkanmu.
You: Aku benar-benar minta maaf. selain aku kau rindukan dan kau sayangi, aku juga tahu aku ini
egois.
Me: hmm..
You: berhentilah ngambek seperti itu. aku benar-benar tak tahu harus bagaimana kalau kau sudah bertingkah seperti itu. jujur aku rindu. kamu dimana? aku jemput yah.
Me: memejamlah. aku ada tepat dihatimu. coba cari dibagian 'tak diurus'. mungkin kau meninggalkanku disana.
You: ayolahhh, kita baikan yah. biarkan pelangi mungil muncul di senyum terhangatmu. agar kau bisa merasa, sehangat itu pula aku rindu padamu.
Me: begitulah kamu. pintar sekali merayu. cepatlah kesini. aku menunggumu. sebelum pelangi ini ditutup kembali dengan awan mendung.

